Wakil Ketua KPK Laode M Syarif - MI/Rommy Pujianto.
Wakil Ketua KPK Laode M Syarif - MI/Rommy Pujianto.

KPK Segera Periksa Nusron Wahid

Nasional OTT KPK
Juven Martua Sitompul • 15 Mei 2019 15:10
Jakarta: Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera mengagendakan pemeriksaan terhadap politikus Partai Golkar Nusron Wahid. Nusron akan diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan suap jasa pengangkutan pupuk Indonesia yang menjerat anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso.
 
Salah satu yang akan dikonfirmasi dari pemeriksaan itu adalah pengakuan Bowo yang menyebut Nusron memberi perintah agar menyiapkan 400.000 amplop berisi uang. Uang itu akan digunakan Bowo untuk 'serangan fajar' pada Pemilihan Legislatif 2019.
 
"Semua yang terlibat yang disebut biasanya kita mintai klarifikasi," tegas Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di Gedung KPK, Jakarta, Rabu, 15 Mei 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Syarif belum bisa memastikan waktu pemanggilan Ketua BNP2TKI tersebut. Waktu pemanggilan akan disampaikan ke publik setelah ada agenda pemeriksaan resmi dari penyidik.
 
Bowo menyeret koleganya di Partai Golkar, Nusron dalam pusaran suap jasa pengangkutan pupuk Indonesia. Bowo mengaku menerima instruksi dari Nusron untuk menyiapkan 400.000 amplop cikal bakal 'serangan fajar' Pemilu 2019.
 
(Baca juga:Duit Suap Bowo Diduga untuk 'Serangan Fajar')
 
Bowo melalui tim hukumnya saat itu bahkan menyebut jika Nusron lebih banyak menyiapkan amunisi untuk politik kotornya yakni 600.000 amplop. Teranyar, tim hukum Bowo menyebut perintah menyiapkan 400.000 amplop itu disampaikan Nusron secara langsung saat melakukan pertemuan di gedung Parlemen.
 
Bowo merupakan caleg petahana Golkar dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Tengah II. Bowo dan Nusron maju sebagai caleg di dapil yang sama. Namun, semua tudingan itu dibantah Nusron.
 
Bowo bersama Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Asty Winasti dan pejabat PT Inersia, Indung ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus dugaan suap kerja sama pengangkutan pupuk milik PT Pupuk Indonesia Logistik dengan PT HTK. Bowo dan Idung sebagai penerima sedangkan Asty pemberi suap.
 
Bowo diduga meminta fee dari PT HTK atas biaya angkut. Total fee yang diterima Bowo USD2 permetric ton. Dia diduga telah enam kali menerima fee di sejumlah tempat seperti rumah sakit, hotel dan kantor PT HTK sejumlah Rp221 juta dan USD85,130.
 
Bowo dan Indung selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sedangkan Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 
(Baca juga: Nusron Bantah Perintahkan Bowo Sidik Siapkan Amplop)

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif