Petinggi Anak Usaha PLN Dicecar Skema Proyek PLTU Riau-I

Juven Martua Sitompul 26 November 2018 19:57 WIB
Korupsi PLTU Riau-1
Petinggi Anak Usaha PLN Dicecar Skema Proyek PLTU Riau-I
Direktur Keuangan PT Pembangkit Jawa Bali Investasi (PJBI), Amir Faisal. Foto: Medcom.id/Juven Martua Sitompul.
Jakarta: Direktur Keuangan PT Pembangkit Jawa Bali Investasi (PJBI), Amir Faisal, selesai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dalam pemeriksaan, Amir mengaku lebih banyak dicecar soal skema proyek pembangunan PLTU Riau-I.

"Prosedurnya saja, skemanya saja (soal proyek PLTU Riau-I)," kata Amir usai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Senin, 26 November 2018.

Hari ini, Amir diperiksa sebagai saksi untuk tersangka mantan Menteri Sosial Idrus Marham. Sepanjang pemeriksaan, Amir dicecar 20 pertanyaan.


Sayangnya, dia menolak merinci hal apa yang digali penyidik. "Sama saja, semua sama aja," ujarnya.

Baca juga: Johannes Kotjo Dituntut Empat Tahun Bui

Dalam persidangan suap PLTU Riau-I beberapa waktu lalu, terdakwa pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johannes Budisutrisno Kotjo, mengungkap adanya pertemuan dengan Direktur Utama PLN Sofyan Basir. Pertemuan untuk meloloskan perusahaan Kotjo sebagai konsorsium penggarap proyek.

Nama Sofyan Basir berulang kali muncul dalam penyidikan atau persidangan kasus suap PLTU Riau-I. Sofyan disebut sebagai pihak yang menawarkan proyek ini kepada Setya Novanto yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar.

Sofyan juga disebut memiliki peran sakral dalam meloloskan Blackgold sebagai konsorsium penggarap proyek PLTU Riau-I. Bahkan, menurut pengakuan Eni Maulani Saragih, Sofyan sempat dijanjikan menerima fee paling banyak. Namun, akhirnya Sofyan mendapat fee yang sama dengan yang diterima Eni dan Idrus Marham.

Baca juga: Kasus Suap PLTU Riau-I Dipastikan tak Mangkrak

KPK baru menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-I. Ketiga tersangka itu yakni Johannes Budisutrisno Kotjo, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih, serta Idrus Marham.

Eni bersama dengan Idrus diduga menerima hadiah atau janji dari Kotjo. Eni diduga menerima uang sebesar Rp6,25 miliar dari Kotjo secara bertahap. Uang itu adalah jatah Eni untuk memuluskan perusahaan Kotjo sebagai penggarap proyek PLTU Riau-I.

Penyerahan uang kepada Eni tersebut dilakukan secara bertahap dengan rincian Rp4 miliar sekitar November-Desember 2017 dan Rp2,25 miliar pada Maret-Juni 2018‎. Idrus juga dijanjikan mendapatkan jatah yang sama jika berhasil meloloskan perusahaan Kotjo.





(HUS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id