Ilustrasi KPK - MI.
Ilustrasi KPK - MI.

Dua Terdakwa Perkara Investasi Bodong Digarap KPK

Nasional OTT KPK
Juven Martua Sitompul • 11 Juli 2019 12:47
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan pemeriksaan terhadap dua terdakwa kasus dugaan penggelapan dan penipuan investasi bodong. Mereka akan diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap penanganan perkara oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta.
 
Dua orang yang digarap penyidik itu yakni Hary Suwanda dan Raymond Rawung. Hary Suwanda merupakan bos Forex asal Surabaya. Sedangkan Raymond Rawung merupakan Direktur Utama (Dirut) PT Golden Financial Futures.
 
Keduanya adalah terdakwa kasus penipuan investasi yang sedang menjalani proses hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Keterangan keduanya dibutuhkan untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka Asisten Pidana Umum Kejati DKI Jakarta, Agus Winoto.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami perlu mendalami rangkaian peristiwa pokoknya, karena diduga suap dilakukan untuk memengaruhi tuntutan dalam perkara tersebut," kata juru bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Kamis, 11 Juli 2019.
 
KPK menetapkan Agus Winoto; satu pihak swasta Sendy Perico dan kuasa hukumnya Alvin Suherman sebagai tersangka kasus dugaan suap penanganan perkara penipuan investasi Rp11 miliar di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Sendy dan Alvin sebagai pemberi suap, sedangkan Agus penerima suap.
 
Suap berawal saat Sendy melaporkan pihak lain yang menipu dan melarikan uang investasinya sebesar Rp11 miliar. Sebelum tuntutan dibacakan, Sendy dan Alvin telah menyiapkan uang untuk jaksa penuntut umum agar memperberat tuntutan kepada pihak yang menipu Sendy.
 
(Baca juga:Aspidum Kejati DKI Jakarta Terima Suap Rp200 juta)
 
Namun, saat persidangan berlangsung, Sendy dan pihak yang dituntut memutuskan berdamai. Kemudian, setelah proses perdamaian rampung, tepatnya pada 22 Mei 2019, pihak yang dituntut meminta Sendy untuk meringankan tuntutannya yakni satu tahun penjara.
 
Alvin selaku kuasa hukum Sendy selanjutnya melakukan pendekatan kepada jaksa penuntut umum melalui seorang perantara. Sang perantara kemudian menginformasikan kepada Alvin bahwa rencana tuntutannya adalah selama dua tahun.
 
Alvin kemudian diminta menyiapkan uang Rp200 juta dan dokumen perdamaian jika ingin tuntutannya berkurang menjadi satu tahun. Alvin dan Sendy akhirnya menyanggupi permintaan jaksa penuntut umum itu dan berjanji menyerahkan syarat-syarat tersebut Jumat, 28 Juni 2019.
 
Lalu pada Jumat pagi, Sendy menuju sebuah bank dan meminta Ruskian Suherman mengantar uang ke Alvin di sebuah pusat perbelanjaan di Kelapa Gading. Sekitar pukul 11.00 WIB, Sugiman Sugita mendatangi Alvin di tempat yang sama untuk menyerahkan dokumen perdamaian.
 
Setelah itu, masih di tempat yang sama sekitar pukul 12.00 WIB, Ruskian mendatangi Alvin untuk menyerahkan uang Rp200 juta yang dibungkus dalam sebuah kantong kresek berwarna hitam. Selanjutnya, Alvin menemui Yadi Herdianto di kompleks perbelanjaan yang sama, untuk menyerahkan kantong kresek berwarna hitam yang diduga berisi uang Rp200 juta dan dokumen perdamaian. Yadi selanjutnya menuju Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta untuk menyerahkan uang tersebut kepada Agus Winoto.
 
Agus Winoto selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11‎ Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
 
Alvin dan Sendy selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor.
 
(Baca juga:KPK Kecewa Masih Ada Jaksa Korupsi)

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif