Koordinator KontraS, Yati Andriyani. Foto: Metrotvnews.com/Faisal Abdalla
Koordinator KontraS, Yati Andriyani. Foto: Metrotvnews.com/Faisal Abdalla

Putusan Meliana Dinilai Kental Tekanan Publik

Nasional toleransi beragama
Fachri Audhia Hafiez • 04 September 2018 10:53
Jakarta: Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Yati Andriyanimenilai vonis 18 bulan penjara terhadap terdakwa penista agama, Meliana dilatarbelakangi desakan publik. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan, Sumatera Utara, harus bertindak adil dalam menjatuhkan vonis.
 
"Dalam hal ini putusan tersebut kental dengan nuansa tekanan publik dan kembali menguatkan. Seringkali penerapan Pasal 156a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penodaan agama dilakukan karena tekanan massa," kata Yati saat dihubungi Medcom.ID di Jakarta, Selasa, 4 September 2018.
 
Yati menjelaskan penggunaan pasal tersebut sering dibenturkan ketika ada kelompok atau individu yang mengemukakan pendapat. Dia bilang banyak yang telah menjadi korban dari penggunaan Pasal 156a tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


(Baca juga: KY: Hakim Harusnya Tidak Buta Keadilan di Kasus Meiliana)
 
"Penerapan pasal bukan subjektivitas mayoritas dan penguasa, sekaligus multitafsir sehingga kelompok minoritas atau individu yang menyampaikan kebebasan berpendapat seringkali menjadi korban dari penerapan pasal ini," ujar Yati.
 
Meliana, terdakwa penista agama di Tanjungbalai, divonis 18 bulan penjara di Pengadilan Negeri Medan, Selasa, 21 Agustus 2018. Dia terbukti menista agama Islam lantaran mempersoalkan suara azan sehingga menimbulkan kegaduhan di Tanjungbalai pada Juli 2016.
 
Pascavonis, banyak pihak yang menyayangkan putusan majelis hakim tersebut. Penyelesaian kasus yang dihadapi oleh Meliana dianggap bisa melalui jalur musyawarah.

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif