Sidang perkara dugaan suap penanganan perkara di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.- Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.
Sidang perkara dugaan suap penanganan perkara di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.- Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.

Direktur Java Indoland Didakwa Menyuap Aspidum Kejati DKI

Nasional kasus suap
Candra Yuri Nuralam • 19 September 2019 23:15
Jakarta: Direktur PT Java Indoland, Sendy Pericho dan Advokat Alvin Suherman didakwa menyuap Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta, Agus Winoto. Suap diberikan untuk memengaruhi putusan perkara penipuan investasi Rp11 miliar di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.
 
"Telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang dipantang sebagai perbuatan berdiri sendiri sehingga merupakan kejatahan atau memberi atau menjanjikannya sesuatu," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Wawan Yunarwanto di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar, Jakarta Pusat, Kamis 19 September 2019.
 
Suap berawal saat Sendy melaporkan salah satu pihak yang diduga menipu dan melarikan uang investasinya sebesar Rp11 miliar. Sebelum tuntutan dibacakan, Sendy dan Alvin telah menyiapkan uang untuk jaksa penuntut agar memperberat tuntutan pelaku.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun saat persidangan berlangsung, Sendy dan pihak yang dituntut memutuskan berdamai. Setelah proses perdamaian rampung, tepatnya pada 22 Mei 2019, pihak yang dituntut meminta Sendy meringankan tuntutan yakni satu tahun penjara.
 
Alvin selaku kuasa hukum Sendy selanjutnya melakukan pendekatan kepada jaksa penuntut melalui seorang perantara. Sang perantara kemudian menginformasikan kepada Alvin bahwa rencana tuntutannya adalah selama dua tahun.
 
Alvin kemudian diminta menyiapkan uang Rp150 juta dan Rp200 juta dan dokumen perdamaian jika ingin tuntutannya berkurang menjadi satu tahun. Uang Rp150 juta diberikan terlebih dahulu kepada jaksa Arih Wira Suranta.
 
"Pemberian uang sebesar Rp150 juta itu diberikan kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yaitu kepada Arih Wira Suranta selaku penuntut umum Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta," ujar Wawan.
 
Pemberian pertama sebesar Rp100 juta diserahkan pada April di Cafe Starbuck Gedung Tempo Paviliun 1, Kuningan, Jakarta Selatan. Sisanya, Rp50 juta dicicil dalam beberapa waktu yang telah disepakati.
 
Lalu pada Jumat, 28 Juni 2019, Sendy menuju sebuah bank dan meminta Ruskian Suherman mengantarkan uang ke Alvin di Mall of Indonesia di Kelapa Gading. Sekitar pukul 11.00 WIB, Sugiman Sugita mendatangi Alvin di tempat yang sama untuk menyerahkan dokumen perdamaian.
 
Masih di tempat yang sama sekitar pukul 12.00 WIB, Ruskian mendatangi Alvin untuk menyerahkan uang Rp200 juta yang dibungkus dalam sebuah kantong kresek berwarna hitam. Selanjutnya, Alvin menemui Yadi Herdianto di kompleks perbelanjaan yang sama untuk menyerahkan kantong kresek berwarna hitam berisi uang Rp200 juta dan dokumen perdamaian.
 
Yadi menuju Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta untuk menyerahkan uang tersebut kepada Agus Winoto. "Agus mengeluarkan uang sebesar Rp50 juta dari dalam plastik dan menyimpan ke dalam filling cabinet beserta surat perdamaian, sedang sisanya dibawa oleh Agus," kata Wawan.
 
Alvin dan Sendy akan mengajukan eksepsi. Mereka berdua meminta waktu seminggu untuk menyiapkan eksepsi. Namun, permintaan itu ditolak hakim dan memberikan waktu tiga hari untuk waktu menyiapkan eksepsi tersebut.
 
Alvin dan Sendy selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor.

 

(JMS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif