Diskusi Urgensi Penyelesaian Kasus Kriminalisasi dan Penyerangan Terhadap Pegiat Antikorupsiā€, di Kantor ICW Jakarta Selatan, Rabu, 10 April 2019--Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.
Diskusi Urgensi Penyelesaian Kasus Kriminalisasi dan Penyerangan Terhadap Pegiat Antikorupsiā€, di Kantor ICW Jakarta Selatan, Rabu, 10 April 2019--Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.

Aktivis Masih Paling Banyak Menjadi Korban Kriminalisasi

Nasional aksi aktivis
Muhammad Syahrul Ramadhan • 10 April 2019 15:44
Jakarta: Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat sebanyak 91 kasus serangan fisik dan kriminalisasi menerpa pegiat antikorupsi sejak 1996 hingga 2019. Dari kasus tersebut korbannya mencapai 115 orang.
 
Divisi Investigasi ICW Wana Alamsyah mengungkapkan dari 115 korban mempunyai latar belakang yang berbeda. Diantaranya, Ahli, Komisioner KPK, aktivis, Aparatur Sipil Negara, Dosen Guru, karyawan BUMN, masyarakat, organisasi, pengacara, serikat pekerja, wakil menteri, penggunaan media sosial. Paling banyak terjadi pada aktivis.
 
"Klasifikasi paling banyak aktivis 49 orang diancam dan diteror dibunuh, sampai terjadi pengeroyokan,” ujar Wana di Kantor ICW dalam diskusi Urgensi Penyelesaian Kasus Kriminalisasi dan Penyerangan Terhadap Pegiat Antikorupsi”, di Kantor ICW Jakarta Selatan, Rabu, 10 April 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain aktivis, masyarakat menjadi terbanyak kedua, sebanyak 16 orang. Masyarakat ini berperan sebagai whistle blower apabila ada indikasi korupsi. Disusul kemudian ASN dengan 10 orang.
 
“Fakta ini merupakan fenomena ironis, masyarakat yang seharusnya menjadi penerima manfaat justru menjadi korban perlawan balik koruptor,” ucapnya.
 
ICW juga memetakan ancaman yang diterima oleh para pegiat antikorupsi yang sedang melakukan advokasi. Pertama terkait dengan jabatan, kedua kekerasan. Ketiga Kriminalisasi dan keempat gabungan kriminalisasi dan kekerasan.
 
“Pegiat antikorupsi paling banyak mendapatkan ancaman kriminalisasi hukum oleh subjek yang dilaporkan, yakni sebanyak 57 orang. Kemudian, ancaman berupa kekerasan menjadi paling banyak kedua, yaitu 47 orang,” terang Wana.
 
Baca: Tiga Tuntutan 700 Hari Kasus Novel Baswedan
 
Selain itu, apabila pelapornya berasal dari Aparatur Sipil Negara (ASN), maka ancaman yang didapatkan berkaitan dengan jabatan (diturunkan jabatannya). Terakhir yaitu kombinasi antara kriminalisasi hukum sekaligus melakukan disertai ancaman kekerasan.
 
Di sisi lain, lanjut Wana, perlu juga dicermati adanya serangan yang dialami komisioner KPK sebanyak 8 orang dan pegawai. Peristiwa semacam ini menurutnya perlu dilihat sebagai sesuatu yang urgen untuk ditelisik secara dan menjadi perhatian bersama.
 
“Serangan ini tidak bisa dipandang kasuistis serangan terhadap individu, karena jumlahnya yang banyak serta menyasar simbol kelembagaan KPK (pimpinan), maka serangan ini merupakan ancaman pelemahan terhadap KPK,”ujarnya.
 
(YDH)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif