Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono (tengah). Medcom.id/Siti Yona Hukmana.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono (tengah). Medcom.id/Siti Yona Hukmana.

Penggerak Pelajar STM Terancam 10 Tahun Penjara

Nasional Omnibus Law Demo Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja
Siti Yona Hukmana • 20 Oktober 2020 15:18
Jakarta: Tiga penggerak pelajar sekolah teknik menengah (STM) untuk merusuh saat unjuk rasa menolak Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) telah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka ialah MLAI, 16; WH, 16; dan SN, 17.
 
"Ancamannya maksimal 10 tahun penjara," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa, 20 Oktober 2020.
 
MLAI dan WH merupakan admin akun Facebook STM se-Jabodetabek. Keduanya menghasut 21,2 ribu pengikutnya untuk merusuh saat unjuk rasa menolak UU Ciptaker pada Kamis, 8 Oktober dan Selasa, 13 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dia mem-posting di Facebook mengundang teman-teman STM atau SMK se-Jabodetabek untuk demo tanggal 8 sampai 13 Oktober 2020 di Istana dan DPR, seruannya harus rusuh, ricuh," ujar jenderal bintang dua itu.
 
Dalam akun Facebook itu juga ditemukan seruan membuat kerusuhan pada aksi unjuk rasa yang dilakukan buruh dan mahasiswa di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada hari ini. Polisi banyak menemukan kalimat ajakan merusuh di akun Facebook tersebut.
 
"Buat 'kawan-kawan ogut jangan lupa supaya Polri jatuh', ini ajakan untuk hari ini," tutur Argo.
 
Dalam akun Facebook itu juga ada imbauan untuk membawa peralatan, seperti odol, kacamata renang, masker, raket, air mineral. Kemudian, membawa senjata tajam, serta molotov.
 
"Dia aparat keamanan negara malah pakai senjata buat lukain kita, besok tanggal 20 Oktober jangan diam, bawa batu yang tajam," kata Argo saat membacakan seruan dalam akun Facebook itu.
 
Baca: Tujuh Penggerak Perusuh Demo UU Cipta Kerja Ditangkap
 
Argo menuturkan dalam akun Facebook STM se-Jabodetabek itu juga ada link untuk bergabung ke WhatsApp Group (WAG). Semua yang turun ke jalan untuk melakukan kerusuhan dipastikan bergabung ke dalam WAG tersebut.
 
"WAG ini sudah dihapus, kita lagi bawa ke laboratorium forensik untuk melihat siapa-siapa saja namanya yang ada di dalam grup itu," ucap Argo
 
Kemudian, tersangka SN merupakan admin akun Instagram @panjang.umur.perlawanan. Akun itu disebut memiliki 11 ribu pengikut. Berbagai macam provokasi diserukan SN dalam akun Instagram tersebut.
 
"Kegiatan untuk aksi turun serentak lah, ajakan tidak percaya dengan negara lagi. Ini adalah admin yang anak-anak punk, ini atasnya yang mengompori dengan medsos lainnya," beber mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya itu.
 
Ketiga tersangka tidak ditampilkan saat rilis penetapan tersangka. Pasalnya, mereka masih di bawah umur.
 
Mereka dijerat Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 a ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Pasal 14 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pudana, dan Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 207 KUHP.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif