Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Rommy Pujianto
Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Rommy Pujianto

KPK Minta Bantuan Kejagung Menghadirkan Saksi

Nasional kasus suap
Media Indonesia • 15 Agustus 2019 11:32
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta bantuan Kejaksaan Agung untuk menghadirkan sejumlah saksi. Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan ada enam saksi yang diminta hadir.
 
"Para saksi merupakan jaksa yang bertugas di Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah," kata Febri di Jakarta, Kamis, 15 Agustus 2019.
 
Febri menyebut pihaknya telah bersurat ke Jaksa Agung M Prasetyo. Saksi-saksi yang dipanggil akan dikonfirmasi soal kasus suap perkara di Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Mereka adalah Kusnin, Rustam Efendi, Benny Crisnawan, Dyah Purnamaningsih, Musriyono, dan Adi Wicaksana.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Surat tertanggal 12 Agustus 2019 sudah kami kirim disertai surat panggilan untuk saksi. Mereka diagendakan diperiksa untuk tersangka SPE (pihak swasta yang berperkara di Kejati DKI Jakarta, Sendy Perico), hari ini Kamis, 15 Agustus 2019," ungkap Febri.
 
Dalam perkara ini, KPK menetapkan pengacara Alvin Suherman (AVS) dan Sendy Perico (SPE) dari unsur swasta sebagai pemberi suap dan pihak yang berperkara. Sementara penerima suap ialah Agus Winoto (AGW) yang merupakan Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.
 
Baca juga:KPK Periksa Tiga Saksi terkait Suap Kejati DKI
 
Suap berawal saat Sendy melaporkan pihak lain yang menipu dan melarikan uang investasinya sebesar Rp11 miliar. Sebelum tuntutan dibacakan, Sendy dan Alvin telah menyiapkan uang untuk Jaksa Penuntut Umum agar memperberat tuntutan kepada penipu Sendy.
 
Namun, saat persidangan berlangsung, Sendy dan pihak yang dituntut memutuskan berdamai. Setelah proses perdamaian rampung pada 22 Mei 2019, pihak yang dituntut meminta Sendy meringankan tuntutannya, yakni satu tahun penjara.
 
Alvin selaku kuasa hukum Sendy selanjutnya mendekati jaksa melalui seorang perantara. Sang perantara kemudian menginformasikan bahwa rencana tuntutannya selama dua tahun.
 
Alvin kemudian diminta menyiapkan uang Rp200 juta dan dokumen perdamaian jika ingin tuntutannya berkurang menjadi satu tahun. Alvin dan Sendy menyanggupi permintaan tersebut.
 
Atas perbuatan itu, Agus Winoto selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11‎ Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
 
Sedangkan Alvin dan Sendy selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor. (M Ilham Ramadhan Avisena)
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif