Ilustrasi BTN. DOK BTN
Ilustrasi BTN. DOK BTN

Eks Kepala BTN Samarinda Diperiksa Terkait Kasus Gratifikasi

Nasional kasus korupsi BTN kejaksaan agung
Siti Yona Hukmana • 10 November 2020 02:36
Jakarta: Mantan Kepala Cabang (Kacab) Bank Tabungan Negara (BTN) Samarinda Atjuk Winarto diperiksa Kejaksaan Agung (Kejagung). Atjuk diperiksa terkait kasus dugaan penerimaan gratifikasi yang menyeret Direktur Utama (Dirut) BTN Maryono.
 
"Pemeriksaan saksi itu dilakukan guna mencari serta mengumpulkan bukti, yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya," kata Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejagung Hari Setiyono dalam keterangan tertulis, Senin, 9 November 2020.
 
Hari mengungkapkan tindak pidana korupsi itu terjadi saat Atjuk menjabat sebagai Kacab BTN Samarinda. Atjuk diyakini mengetahui banyak terkait proses pemberian fasilitas kredit kepada PT Pelangi Putra Mandiri (PPM) dari BTN cabang Samarinda.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Yang pada akhirnya menyebabkan status kreditnya dalam kondisi macet atau kolektibilitas lima," ungkap Hari.
 
Kejagung menetapkan empat tersangka dalam kasus ini. Mereka yakni Maryono, Direktur PT PPM Yunan Anwar, Direktur Keuangan PT Megapolitan Smart Service Widi Kusuma Purwanto, yang juga menantu Maryono. Kemudian, Komisaris Utama PT Titanium Property Ichsan Hasan.
 
(Baca: BUMN Dukung Penuh Kejagung Tuntaskan Kasus Korupsi)
 
Maryono dijerat Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 5 Ayat (2) jo ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah dibuah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1.
 
Sedangkan Yunan dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor. Maryono dan Yunan ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Guntur, Jakarta Selatan.
 
Widi dijerat Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 5 ayat (2) jo ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sementara itu, Ichsan dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Widi dan Ichan ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan dan cabang Kejagung.
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif