Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Foto: Medcom.id/M Sholahadhin Azhar
Komisioner KPU Wahyu Setiawan. Foto: Medcom.id/M Sholahadhin Azhar

Wahyu Mengaku Tak Kenal Harun Masiku

Nasional OTT KPK
Whisnu Mardiansyah • 15 Januari 2020 19:42
Jakarta: Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan mengaku tidak mengenal politikus PDI Perjuangan Harun Masiku. Wahyu juga tidak pernah komunikasi dengan calon anggota legislatif (caleg) dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatra Selatan (Sumsel) 1 itu.
 
"Saya belum pernah berkomunikasi dengan Harun, kenal juga tidak, baik komunikasi ketemu atau tidak langsung," kata Wahyu dalam sidang etik Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu, 15 Januari 2019.
 
Wahyu menyadari dari awal ada gelagat tidak enak dari PDI Perjuangan yang seolah memaksa Harun Masiku sebagai caleg terpilih. KPU beberapa kali menyampaikan Harun tidak memenuhi syarat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya bilang ke Pak Ketua (Ketua KPU Arief Budiman). Ketua kalau bisa berkomunikasi dengan Harun tolong disampaikan bahwa permintaan PDI Perjuangan melalui surat tidak mungkin bisa dilaksanakan, kasihan Harun," jelas Wahyu.
 
Dia mengaku ada lobi dari sejumlah pihak yang ingin mendorong memasukkan Harun sebagai penghuni Kompleks Parlemen. Situasi ini sudah dilaporkan kepada komisoner lainnya.
 
"Saya pernah menyampaikan itu kepada pak Ketua dan Bu Evi (Komisioner KPU Evi Novida Ginting Manik). Saya tetap menyampaikan chatting saya saya mohon saudara-saudara soal temuan karena ada situasi permakelaran," jelas Wahyu.
 
KPK membongkar sugaan suap terkait pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR dalam operasi tangkap tangan (OTT), Rabu, 8 Januari 2020. Kasus ini bermula dari satu kursi DPR dari Dapil Sumsel 1 yang diraih Nazarudin Kiemas, caleg PDI Perjuangan yang meninggal pada Maret 2019.
 
Ipar dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri itu mengamankan kursi dengan meraih 145.752 suara. KPU memutuskan menerapkan mengganti Nazarudin.
 
Caleg PDI Perjuangan di Dapil Sumsel 1, Riezky Aprilia, menjadi pemilik kursi DPR karena meraup 44.402 suara, terbanyak kedua setelah Nazarudin. Sementara itu, Harun Masiku hanya didukung 5.878 suara.
 
Namun, PDI Perjuangan meminta KPU menetapkan Harun sebagai pengganti Nazarudin Kiemas. Partai berlambang banteng itu bahkan mengajukan uji materi terhadap Peraturan KPU Nomor 3 Tahun 2019 kepada Mahkamah Agung (MA). MA menetapkan partai sebagai penentu PAW.
 
Berbekal Putusan MA Nomor 57 P/HUM/2019, PDI Perjuangan meminta posisi Nazarudin diberikan pada Harun. Permintaan itu ditolak. KPU menilai Riezky yang berhak menempati posisi yang ditinggalkan Nazarudin.
 
Harun Masiku diduga melobi Wahyu lewat mantan aggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Agustiani Tio Fridelina. Dia ingin mengupayakan PAW caleg PDI Perjuangan Dapil Sumsel 1.
 
KPK menyita uang Rp400 juta dalam pecahan mata uang dolar Singapura saat OTT di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Wahyu sebelumnya diduga telah menerima suap Rp200 juta.
 

 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif