Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Polisi Simpulkan Rekening Rp100 Juta Petugas Kebersihan Kejagung Wajar

Nasional kebakaran gedung kejaksaan agung Kebakaran di Kejaksaan Agung
Siti Yona Hukmana • 23 Oktober 2020 20:19
Jakarta: Polisi telah menyelidiki rekening petugas kebersihan (cleaning service) terkait kasus kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung (Kejagung). Petugas kebersihan itu diketahui memiliki uang di rekening mencapai Rp100 juta.
 
"Kita periksa mendalam, buka rekeningnya, kita cek. Ternyata hasilnya jumlah total yang sekian banyak itu melalui proses panjang sehingga tidak ada hal-hal yang mencurigakan," kata Direktur Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri Brigadir Jenderal (Brigjen) Ferdy Sambo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat, 23 Oktober 2020.
 
Menurut dia, penyidik telah menelusuri kecurigaan-kecurigaan yang muncul terhadap petugas kebersihan yang memiliki uang banyak tersebut. Selain mengecek rekening, penyidik memeriksa saksi, baik dari Kejagung maupun rekan kerja petugascleaning service itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Penjelasan Ahli Soal Rokok Picu Kebakaran Kejagung
 
Ferdy mengatakan 85 orang yang ada di tempat kejadian perkara (TKP) saat kebakaran diperiksa. Penyidik bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri juga menggelar prarekonstruksi untuk mengetahui kegiatan petugas cleaning service itu.
 
"Kamu berbuat apa sehingga kita sampai pada kesimpulan bahwa sumber api itu di Lantai 6 di Biro Kepegawaian. Kemudian fokus penyidikan di Lantai 6," ucap jenderal bintang satu itu.
 
Dalam penyelidikan hingga penyidikan di Lantai 6 diketahui ada aktivitas orang, tetapi tidak ada yang menyulut api. Api ternyata berasal dari bara dan menjadi flaming atau api yang menyala terbuka.
 
"Itu dari rokok lima tukang yang bekerja di Lantai 6," kata Ferdy.
 
Gedung Utama Kejagung terbakar Sabtu, 23 Agustus 2020 sekitar pukul 18.15 WIB. Polisi menetapkan delapan tersangka dalam kebakaran yang mengakibatkan kerugian mencapai Rp1,2 triliun itu.
 
Lima tersangka yakni tukang yang merokok: T, H, S, K dan IS. Tiga tersangka lain yakni mandor UAN, Direktur Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kejagung NH, dan Direktur Utama PT ARM, R.
Mandor menjadi tersangka karena dinilai lalai mengawasi para tukang.
 
Pejabat Kejagung menjadi tersangka karena tidak mengecek pembersih lantai merek Top Cleaner yang mengandung fraksi solar. Pembersih ini diproduksi PT ARM. Belakangan, produk itu diketahui tidak memiliki izin edar.
 
Kedelapan tersangka dikenakan Pasal 188 KUHP juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. Mereka terancam hukuman hingga lima tahun penjara.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif