Sahat dan Gema Al Ramadhan--Metrotvnews.com/Juven Martua Sitompul
Sahat dan Gema Al Ramadhan--Metrotvnews.com/Juven Martua Sitompul

Dua Mantan Teroris Tebing Tinggi Kembali ke NKRI

Nasional teroris
Juven Martua Sitompul • 22 September 2017 13:52
medcom.id, Tebing Tinggi: Sahat dan Gema Al Ramadhan, mengaku menyesal pernah menjadi bagian dari kelompok teroris. Dua mantan penebar teror di wilayah Tebing Tinggi, Sumatera Utara ini menyadari tidak ada jihad yang lebih penting ketimbang menjaga keutuhan NKRI.
 
"Proses saya kembali ke NKRI karena polisi tangkap saya. Kalau enggak tertangkap belum tentu saya sadar," kata Sahat usai menghadiri dialog tentang kontra-radikalisme Mabes Polri di Polres Tebing Tinggi, Sumatera Utara, Jumat 22 September 2017.
 
Sahat selaku mentor dari kelompok teror ini mengatakan, komplotannya tergerak lantaran adanya ketidakadilan terhadap umat muslim di dunia. Mereka menganggap negara-negara besar membiarkan kaum muslim tertindas dan terintimidasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karena adanya ketidakadilan terhadap kaum muslimin yang ada di luar dan kita enggak bisa berbuat apa-apa," ujarnya.
 
Baca: Polres Tebing Tinggi Ajak Tokoh Masyarakat Sosialisasikan Radikalisme
 
Teror komplotan Sahat dimulai dari perampokan Bank CIMB Niaga Cabang Medan Aksara, Sumatera Utara pada Rabu 18 Agustus 2010. Tiga orang jadi korban kebrutalan kelompok ini. Salah satunya, anggota Brimob Manuel Simanjuntak tewas ditembak.
 
Sedangkan dua korban lainnya adalah petugas keamanan Bank M Fahmi dan Muh Diantoro, keduanya kritis. Tak hanya itu, mereka juga menggondol uang Bank sebanyak Rp400 juta dan handphone milik karyawan.
 
"Kita sudah tiga kali melakukan penyerangan, salah satunya Bank CIMB itu. Target tetap anggota polisi," ucap Sahat.
 
Sahat mengatakan, paham atau strategi penyerangan didapat dari internet. "Datangnya dari internet, teman di luar yang satu pemikiran," timpalnya.
 
Sahat mengaku, paham radikal dia tinggalkan setelah menjalani masa tahanan selama tiga tahun di Lapas Satu Minang. Di dalam bui, Sahat dan Gema belajar banyak tentang agama dari para ustad yang disiapkan pihak kepolisian.
 
"Jadi penjaralah saya bisa belajar, tertanya ke Para ustaz yang di luar kalangan kami, sehingga wawasan kami terbuka," ucap dia.
 
Selain mendapat ajaran islam yang sesungguhnya, keduanya bertobat karena alasan keluarga. "Akhirnya kita berubah karena kita juga punya hati nurani kan," kata dia.
 
Di sisi lain, Sahat membantah kalau kelompoknya berafiliasi dengan kelompok teroris Jamaah Islamiyah, Al Qaeda ataupun ISIS. "Bergerak sendiri, saya cuma mentor saja kalau perlu jihad sekarang, ya saya sampaikan," ungkapnya.
 
Sejak meniggalkan paham radikal, Sahat dan Gema membantu polisi khususnya jajaran Polres Tebing Tinggi mensosialisasikan bahayanya radikalisme. Keduanya berharap, tidak ada lagi warga Tebing Tinggi yang sesat dan menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.
 
"Ke depan kita lakukan sosialisasi bahaya paham radikal. Kita berharap tidak ada stigma radikalisme," pungkasnya.
 

(YDH)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif