Bupati Latif Minta Jatah Proyek Lewat Fauzan
Bupati nonaktif Hulu Sungai Tengah Abdul Latif /MI/Rommy Pujianto
Jakarta: Bupati nonaktif Hulu Sungai Tengah Abdul Latif disebut meminta jatah kepada Direktur PT Menara Agung Pusaka Donny Witono. Uang itu disebut jatah proyek pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah Damanhuri Barabai.

Donny yang bersaksi untuk Abdul Latif dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta mengatakan awalnya ia ditemui salah seorang perwakilan Abdul Latif, Ketua Kadin Hulu Sungai Tengah Fauzan Rifani. Fauzan mendatanginya setelah menemui Abdul Latif.

"Malamnya, tanggal 27 Maret itu, ada saudara Fauzan datang ke hotel. Dia memperkenalkan diri sebagai ketua kadin Hulu Sungai Tengah dan juga sebagai orang dekatnya bupati," ungkap Donny di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin, 4 Juni 2018.


Fauzan menyampaikan setiap kontraktor yang akan mengerjakan proyek di Hulu Sungai Tengah wajib mengikuti aturan. Ia harus memberikan jatah fee 10 persen dari nilai proyek.  

"Dia menyampaikan bahwa ada aturan main lah kasarnya. Harus ada kewajiban untuk proyek. Semacam aturan yang wajib untuk proyek dan operasional antara 7,5-10 persen," tegas dia.

Baca: Bupati Hulu Sungai Tengah Segera Diadili

Donny baru mengetahui aturan tersebut. Fauzan kembali menawarkan perusahaan Donny dimenangkan dalam proses lelang proyek.

Ia tak langsung mengiyakan permintaan Donny. Menurut dia, tanpa bantuan Fauzan dan Abdul Latif, perusahaannya harus memenangi proses lelang.

"Saya bilang harus menang (lelang), karena posisi tawar saya terendah, syarat saya komplit, harusnya saya menang," ucap Donny.

Namun, Fauzan tetap meminta Donny memberikan jatah 10 persen. Donny bersikeras menolak.

Saat itu, Fauzan menghubungi seseorang, kemungkinan Bupati Abdul Latief. Lalu, ia menurunkan tawaran dari 10 persen menjadi 7,5 persen.

"Saya pikir terlalu vulgar, saya enggak lanjutin pembicaraan, saya pikir-pikir dulu, hitung-hitung lagi, saya mau proyek dapat dulu," beber Donny.

Fauzan kembali menghubungi ketika perusahaan Donny menang lelang. Ia meminta jatah 7,5 persen dari nilai proyek.

"Saya minta keringanan karena keberatan, tapi kata Fauzan enggak bisa, katanya sudah setuju dari awal dan dilaporkan ke bupati," tutur Donny.

Baca: Dua Tersangka Suap Bupati Hulu Sungai Tengah Segera Diadili

Donny menyerahkan dua bilyet giro kepada Fauzan. Pencairan dilakukan dua tahap. Pertama Rp1,8 miliar setelah pencairan uang muka proyek, dan yang kedua Rp1,8 miliar setelah pekerjaan selesai.

Abdul Latif didakwa menerima suap dari Donny Witono, pemilik PT Menara Agung Pusaka. Suap diberikan agar PT Menara Agung Pusaka memenangkan proyek.

Dalam surat dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), total duit suap yang diterima Latif mencapai Rp3,6 miliar.

Latif disangkakan melanggar Pasal 12 huruf b UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 dan Pasal 64 ayat (1) KUHP.



(OJE)