Muhammad Nazaruddin. Foto: MI - Adam Dwi
Muhammad Nazaruddin. Foto: MI - Adam Dwi

Keluarga Nazaruddin di Pusaran Gratifikasi Bowo Sidik

Nasional OTT KPK
Juven Martua Sitompul • 12 Juli 2019 19:19
Jakarta: Terpidana perkara Wisma Atlet, Muhammad Nazaruddin, serta kedua adiknya, anggota Komisi VII DPR, Muhammad Nasir, dan Muhajidin Nur Hasim, terseret pusaran gratifikasi anggota Komisi VI, Bowo Sidik Pangarso. Ketiganya dijadwalkan untuk diperiksa sebagai saksi dari tersangka pejabat PT Inersia, Indung.
 
PT Inersia merupakan perusahaan milik Bowo. Indung diketahui sebagai orang kepercayaan Bowo mengurus keperluan PT Inersia.
 
"KPK telah melakukan pemanggilan terhadap tiga saksi untuk tersangka IND," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Jumat, 12 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nazaruddin sedianya diperiksa di Lapas Sukamiskin, Bandung, pada Selasa, 9 Juli 2019. Namun, pemilik Permai Group itu mangkir dengan alasan sakit.
 
Nasir juga tak memenuhi panggilan penyidik pada Senin, 1 Juli 2019 dan Nur Hasim mangkir pemanggilan KPK pada Jumat, 5 Juli 2019. KPK akan memanggil ulang kakak beradik tersebut.
 
"Kami ingatkan agar para saksi bersikap koperatif dan memenuhi panggilan penyidik pada waktu yang ditentukan," ujarnya.
 
Belum diketahui detail kaitan Nazaruddin dan kedua adiknya dalam kasus ini. Informasi teranyar, KPK menemukan bukti salah satu sumber gratifikasi terkait pengurusan Dana Alokasi Khusus (DAK). Bahkan, dugaan ini diperkuat dengan penggeledahan ruang kerja Nasir pada 4 Mei 2019.
 
"Untuk mendalami informasi terkait proses penganggaran DAK dan sumber dana gratifikasi ke BSP," pungkasnya.
 
Bowo bersama Indung dan marketing manager Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK), Asty Winasti ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait kerjasama jasa penyewaan kapal antara PT Pilog dan PT HTK. Bowo dan Idung sebagai penerima, sedangkan Asty pemberi suap.
 
Bowo diduga meminta fee dari PT HTK atas biaya jasa angkut tersebut. Total fee yang diterima Bowo USD2 permetric ton. Pemberian fee terjadi enam kali di sejumlah tempat seperti rumah sakit, hotel dan kantor PT HTK senilai Rp221 juta dan USD85.130.
 
Dari Bowo penyidik menyita uang Rp8 miliar dalam 82 kardus dan dua boks kontainer. Uang Rp8 miliar itu terdiri dari pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu yang sudah dimasukkan ke dalam amplop berwarna putih.
 
Bowo dan Indung selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sedangkan Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif