Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Rommy Pujianto.

Penyuap Dirut Perum Perindo Segera Disidang

Nasional kasus suap
Fachri Audhia Hafiez • 22 November 2019 19:49
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah membereskan penyidikan terhadap Direktur PT Navy Arsa Sejahtera (NAS) Mujib Mustofa. Mujib ditetapkan sebagai tersangka karena diduga menyuap Direktur Utama Perum Perindo Risyanto Suanda untuk memperoleh jatah kuota impor ikan.
 
"Hari ini dilakukan pelimpahan berkas, barang bukti untuk tersangka MMU (Mujib Mustofa) dalam kasus tindak pidana korupsi suap terkait dengan kuota impor ikan tahun 2019," kata juru bicara KPK Febri Diansyah, Jakarta, Jumat, 22 November 2019.
 
Sidang Mujib digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam perkara ini, KPK telah memeriksa 23 saksi dari berbagai unsur.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saksi-saksi tersebut berasal dari Dirjen Perdagangan Luar Negeri pada Kementerian Perdagangan (Kemendag), Plt Direktur Logistik PDSKP Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kasubdit Barang Konsumsi Direktorat Impor Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag. Kemudian Direktur Keuangan Perum Perindo, Direktur Operasi Perum Perindo, pihak swasta dan seorang ibu rumah tangga.
 
Risyanto Suanda telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara ini. Risyanto selaku pucuk pimpinan Perum Perindo yang berwenang mengajukan kuota impor diduga telah membantu PT NAS mendapatkan proyek impor ikan.
 
Kongkalikong pengurusan proyek berawal saat seorang mantan pegawai Perum Perindo mengenalkan Mujib dengan Risyanto. Setelah perkenalan itu, Mujib dan Risyanto membicarakan kebutuhan impor.
 
Mujib dan Risyanto bertemu pada Mei 2019. Mereka sepakat Mujib mendapatkan kuota impor ikan sebanyak 250 ton dari kuota impor Perum Perindo yang disetujui Kemeterian Perdagangan (Kemendag).
 
Setelah 250 ton ikan berhasil diimpor PT NAS, ikan-ikan tersebut kemudian dikarantina dan disimpan di cold storage milik Perum Perindo. Berdasarkan keterangan Mujib, hal ini dilakukan untuk mengelabui otoritas yang berwenang agar seolah-olah yang mengimpor adalah Perum Perindo.
 
Tak sampai di situ, pada 16 September 2019, Mujib kembali bertemu dengan Risyanto di salah satu lounge hotel di Jakarta Selatan. Dalam pertemuan tersebut, Risyanto menanyakan kesanggupan Mujib menyiapkan kuota impor ikan tambahan sebesar 500 ton untuk Oktober 2019.
 
Pada pertemuan itu juga, Risyanto meminta uang sebesar USD30 ribu atau setara Rp400 juta lebih kepada Mujib untuk keperluan pribadi. Risyanto meminta Mujib menyerahkan uang tersebut melalui Adhi Susilo yang menunggu di lounge hotel yang sama.
 
Risyanto dan Mujib kembali bertemu di salah satu kafe di Jakarta Selatan pada 19 September 2019. Mujib menyampaikan daftar kebutuhan impor ikan kepada Risyanto dalam bentuk tabel berisi Informasi jenis ikan dan jumlah. Ia juga menyebut komitmen fee yang akan diberikan kepada Perum Perindo untuk setiap kilogram ikan impor.
 
Mujib selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 
Risyanto selaku penerima suap dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.
 

(NUR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif