Kuasa Hukum Edward Soeryadjaya Tinggalkan Persidangan

Faisal Abdalla 04 Juli 2018 20:05 WIB
kasus korupsi
Kuasa Hukum Edward Soeryadjaya Tinggalkan Persidangan
Ketua tim kuasa hukum Edward Soeryadjaya, Yusril Ihza Mahendra. MI/Rommy Pujianto.
Jakarta: Tim kuasa hukum terdakwa kasus korupsi dana Pensiun PT Pertamina (Persero) Edward Seky Soeryadjaya meninggalkan persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta. Persidangan batal digelar. 

Tim kuasa hukum yang diketuai advokat Yusril Ihza Mahendra menilai ada tiga alasan dasar tim kuasa hukum ogah mengikuti proses persidangan. Pertama, Yusril mempermasalahkan dasar hukum pemanggilan terdakwa dan saksi-saksi.

"Dalam surat panggilan, dikatakan bahwa terdakwa ini dipanggil untuk perkara tindak pidana PT Pertamina Transkontinental, yaitu perkara nomor 09/Pidsus/Tpk/2018/PN.JKT.PST. Sedangkan perkara kita sekarang ini perkara nomor 34/Pid.Sus/Tpk/2018/PN.JKT.PST. Perkaranya bukan perkara PT Pertamina Transkontinental, tapi perkara korupsi dana pensiun Pertamina," kata Yusril di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu, 4 Juli 2018. 


Yusril menilai kesalahan ini bersifat prinsipil dan melanggar Pasal 146 KUHAP. Selain menyoal surat pemanggilan, Yusril juga menyoalkan salinan putusan sela yang belum diterima tim kuasa hukum Edward. Berkas tersebut dibutuhkan kubu Edward untuk mengajukan perlawanan terhadap putusan sela ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. 
 
"Andaikata pengadilan tinggi memutuskan menerima keberatan kami, sidang ini harus dihentikan karena itu kami keberatan sidang ini dilanjutkan sebelum hak kami mengajukan memori keberatan dapat kami lakukan," tegas Yusril. 

Selain itu, kubu Edward juga menolak saksi-saksi yang dihadirkan JPU hari ini. Salah seorang kuasa hukum Edward, Charles mengatakan saksi-saksi tersebut belum pernah diperiksa untuk tersangka Edward. 

Charles menerangkan dari delapan saksi saksi-saksi yang dihadirkan, tiga saksi diperiksa dengan sprindik nomor 56. Sisanya diperiksa dengan sprindik nomor 55. Sementara Edward ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus tersebut dengan sprindik nomor 93. 

"Jadi kami merasa bahwa saksi ini yang hari ini dipanggil tidak pernah diperiksa untuk atas nama tersangka Pak Edward Soeryadjaya. Karena itu kami merasa saksi ini tidak bisa dihadirkan di sini karena belum pernah diperiksa untuk tersangka Pak Edward," ujar Charles.

Sementara itu, Ketua Majelis Hakim Sunarso mengatakan keberatan terkait surat pemanggilan dan saksi-saksi agar dicatat di dalam nota pembelaan (pledoi). Sementara terkait dengan salinan putusan, Majelis mengatakan panitera yang bertugas saat ini merupakan panitera pengganti sementara. Majelis akan segera meminta panitera pengganti yang sesungguhnya bertugas di perkara ini agar segera menyerahkan salinan putusan sela tersebut kepada tim kuasa hukum. 

JPU dan Majelis hakim menyarankan agar sidang tetap dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan saksi. Namun tim kuasa hukum Edward menolak dan memutuskan untuk meninggalkan ruang sidang. 

"Kami mohon izin untuk meninggalkan ruang sidang. Bukan walk out, tapi karena kami tidak akan bertanya. Untuk apa kami di sini? Itu saja," tukas Charles. 

Akibat aksi ini, majelis hakim memutuskan menunda persidangan hingga Rabu, 11 Juli 2018. 

Kasus korupsi ini bermula ketika Edward yang juga pemegang saham mayoritas PT Sugih Energy, Tbk dengan kode saham SUGI, berkenalan dengan Presiden Direktur Dana Pensiun Pertamina Muhammad Helmi Kamal Lubis.
 
Perkenalan itu dimaksudkan agar dana pensiun Pertamina membeli saham SUGI. Selanjutnya, Edward menginisiasi Helmi untuk melakukan pembelian saham SUGI total sejumlah 200 miliar lembar saham SUGI senilai Rp601.000.000.000 melalui PT Millenium Danatama Sekuritas.
 
Kemudian, atas permintaan Ortus Holding Ltd uang yang diterima PT Millenium Danatama Sekuritas dari hasil transaksi penjualan saham SUGI Dana Pensiun Pertamina digunakan untuk menyelesaikan pembayaran kewajiban pinjaman atau kredit dari Ortus Holding Ltd. Yakni, pembayaran pinjaman dengan jaminan repo saham SUGI milik Ortus Holding Ltd total sejumlah Rp51.739.571.543; pembayaran pinjaman dengan jaminan repo saham SUGI milik Ortus Holding Ltd total sejumlah Rp10.605.707.240.
 
Kemudian, pembayaran pinjaman dengan jaminan repo saham SUGI milik Ortus Holding Ltd total sejumlah Rp52.650.325.000; pembayaran kewajiban Sunrise Aseet Grup Limited kepada Credit Suisse total sejumlah Rp29.260.000.140; dan pembayaran pinjaman dengan jaminan repo saham SUGI dari Ortus Holding Ltd total sejumlah Rp461.431.732.175. Hasil pemeriksaan BPK, didapatkan nilai kerugian keuangan negara sebanyak Rp599.426.883.540.



(DRI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id