Ilustrasi penangkapan pelaku. Medcom.id
Ilustrasi penangkapan pelaku. Medcom.id

Sempat Buron, Otak Penipuan Investasi Robot Trading Ditangkap

Nasional penipuan polri Penegakan Hukum Investasi Bodong Penipuan investasi
Siti Yona Hukmana • 24 Januari 2022 08:30
Jakarta: Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menangkap buron otak penipuan investasi melalui aplikasi robot trading Evotrade PT Evolution Perkasa Group. Tersangka yang masuk daftar pencarian orang (DPO) itu ditangkap pada Kamis, 20 Januari 2022.
 
"Sekitar pukul 16.00 WIB telah dilakukan penangkapan terhadap tersangka Andi Muhammad Agung Prabowo," kata Dirtipideksus Bareskrim Polri Brigjen Whisnu Hermawan kepada Medcom.id, Senin, 24 Januari 2022.
 
Whisnu mengatakan Andi merupakan pemilik robot trading Evotrade. Otak penipuan investasi itu diringkus di salah satu hotel daerah Jalan Kebon Kacang, Jakarta Pusat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Polisi menyita sejumlah barang bukti saat penangkapan. Seperti 1.150 lembar uang dolar Singapura pecahan SGD1.000, 1.000 lembar uang rupiah pecahan Rp100 ribu, dan 3 unit handphone milik tersangka.
 
"Barang bukti uang asing ditemukan di lokasi penangkapan lebih dari Rp12 miliar," kata jenderal bintang satu itu.
 
Polisi menggelandang Andi ke Bareskrim Polri dan telah dilakukan penahanan. Polisi tengah menelusuri aset milik Andi.
 
Sementara itu, penyidik juga mengejar otak penipuan investasi lainnya Anang Diantoko. Anang telah ditetapkan sebagai DPO.
 
Tersangka dijerat Pasal 106 Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2014 tentang perdagangan. Beleid itu mengatur soal dugaan menjalankan usaha penjualan distribusi langsung (MLM) yang tidak memiliki izin dari Kementerian Perdagangan (Kemendag).
 
Kemudian, Pasal 105 UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Beleid itu mengatur soal dugaan melakukan penawaran dengan skema piramida, yang bonus keuntungan bukan diperoleh dari hasil penjualan barang tapi berdasarkan keikutsertaan member baru.
 
Polisi menetapkan enam tersangka dalam kasus ini. Sebanyak dua tersangka, yakni A selaku kepala administrasi dan Desmon sebagai pemilik rekening penampung telah ditahan.
 
Sedangkan, dua lainnya merupakan Direkrut Utama (Dirut) PT Evolution Perkasa Group, Asep Komara, dan D selaku pencari Kartu Tanda Penduduk (KTP) tidak dilakukan penahanan. Mereka hanya dikenakan wajib lapor karena tidak mengetahui terjadinya tindak pidana tersebut.

Kronologi penipuan investasi robot trading

Penipuan investasi melalui aplikasi robot trading itu dilakukan sepanjang 2021. PT Evolution Perkasa Group menjual aplikasi robot trading tanpa izin, bahkan dalam melaksanakan kegiatannya menggunakan sistem ponzi atau piramida member get member.
 
"Jadi, bukan barang dijual tapi sistemnya," kata Whisnu Hermawan dalam konferensi pers, Rabu, 19 Januari 2022.
 
Whisnu menjelaskan skema ponzi atau piramida tersebut. Seseorang yang memiliki enam buyer dan mendapat pengikut akan mendapat keuntungan 10 persen.
 
"Kemudian dapat member lagi dapat 6 persen, jadi secara berjenjang hingga 20 persen," ungkap Whisnu.
 
Keuntungan lurus ke bawah itu merupakan skema single level marketing. Skema itu dilarang Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, karena menjual barang berisiko tinggi.
 
Penjualan sistem robot trading itu juga tidak berizin. Sejatinya, robot trading itu diperbolehkan, karena alat transaksi di media floor saham baik forex maupun index. Asal, berizin.
 
Baca: Presiden Perintahkan OJK Perkuat Pengawasan untuk Cegah Investasi Bodong
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif