Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman. MI/Bayu Anggoro.
Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman. MI/Bayu Anggoro.

Polisi Konfrontasi Keterangan Munarman dan Supriyadi

Nasional Ninoy Karundeng
Kautsar Widya Prabowo • 10 Oktober 2019 07:07
Jakarta: Polisi mengkonfrontir keterangan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman dengan tersangka Supriyadi (S). Polisi ingin mencari tahu dugaan penghilangan barang bukti rekaman kamera pengawas dalam kasus dugaan penganiayaan relawan Joko Widodo, Ninoy Karundeng.
 
Tersangka Supriyadi merupakan sekretaris Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Falah, Jakarta Pusat. Masjid itu diduga menjadi lokasi penganiayaan Ninoy.
 
"Keterangan dari Pak Munarman mau dikonfrontir dari pak Supriyadi yang saat ini tahan titipan di krimum (kriminal umum). Tapi ada alasan lain yang kita gak tau juga," kata Kuasa hukum Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman, Bachtiar Aziz, di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 9 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bactiar menilai percakapan kliennya dengan Supriyadi tidak relevan dengan penganiyaan dan penculikan Ninoy. Karena percakapan tersebut terjadi setelah dua hari kejadian penganiyaan.
 
"Isi WhatsApp dua hari setelah kejadian 30 (September) yang terkait dengan Ninoy, agak jauh sebenarnya subtansinya," tuturnya.
 
Ia mengungkapan percakapan antara Munarman dan Supriyadi sebatas konsultasi hukum. Munarman, kata dia, kebetulan berprofesi sebagai pengacara sehingga bisa memberikan saran kepada Supriyadi.
 
"Memberikan saran konsultasi hukum juga bahwa jika ada orang-orang ngaku-ngaku (dari Polda Metro Jaya) usir aja, seperti itu. lalu poin kedua terkait bahwa di dalam masjid itu ada CCTV. Nah itu tolong diamankan kalau nanti hal-hal yang mungkin diperlukan itu aja," jelasnya.
 
Sebelumnya terjadi perbedaan keterangan antara tersangka S dan Munarman ihwal dugaan penghilangan barang bukti rekaman CCTV. Tersangka S mengaku menghapus rekaman CCTV atas perintah Munarman. Sedangkan Munarman membantah hal tersebut.
 
Munarman mengaku saat kejadian dihubungi salah satu pengurus masjid yang menjadi tempat penganiayaan Ninoy. Pengurus masjid meminta wejangan Munarman.
 
Dia lantas meminta pengurus masjid memberikan rekaman CCTV. "Saya dikasih (rekaman CCTV) agar saya bisa asesmen situasinya dalam rangka kepentingan hukum calon klien," ujar Munarman.
 
Dia mengaku belum melihat isi rekaman CCTV itu. Pasalnya, konsultasi dilakukan melalui WhatsApp. "Sama sekali belum lihat rekamannya," kata Munarman.
 
Polda Metro Jaya menetapkan 13 tersangka terkait kasus dugaan penganiayaan Ninoy Karundeng. Tiga dari belasan orang tersangka itu dijerat menggunakan UU ITE. Mereka terbukti merekam dan menyebarkan video Ninoy saat diinterogasi orang tak dikenal.
 
Sedangkan, tersangka AA, ARS, YY, RF, Baros, S, TR, SU, ABK, IA, R, Fery alias F, dan Sekretaris Persaudaraan Alumni (PA) 212 Bernard Abdul Jabbar, dijerat dengan Pasal 170 KUHP dan Pasal 335 KUHP.

 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif