Terdakwa kasus dugaan suap dan gratifikasi Bowo Sidik Pangarso mengikuti sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta. (Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari)
Terdakwa kasus dugaan suap dan gratifikasi Bowo Sidik Pangarso mengikuti sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta. (Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari)

Jaksa Beberkan Penerimaan Fee Bowo Sidik

Nasional OTT KPK
Fachri Audhia Hafiez • 14 Agustus 2019 14:08
Jakarta: Terdakwa kasus suap Bowo Sidik Pangarso disebut meminta uang dalam kerja sama pekerjaan pengangkutan dan sewa kapal antara PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) dengan PT Pilog. Ia kerap berhubungan dengan Marketing Manajer PT HTK Asty Winasti untuk memperoleh fee tersebut.
 
"Bahwa terdakwa meminta commitment fee sebesar 2 dolar Singapura per metrik ton dari volume amoniak yang diangkut kapal MT Griya Borneo yang disewa oleh PT Pilog," kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Kiki Ahmad Yani di Pengadilan Tindak Pidana (Tipikor), Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Agustus 2019.
 
Komitmen fee yang diterima Bowo akhirnya disetujui 1,5 dolar Singapura per metrik ton. Uang tersebut akan direalisasikan dengan syarat adanya penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT HTK dan PT Pilog.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kiki membeberkan awal Maret 2018, terdakwa meminta uang muka advance fee kepada Asty Winasti sebesar Rp1 miliar karena kerja sama antara PT HTK dan PT Pilog telah tercapai.
 
Baca juga:Bowo Sidik Didakwa Terima Gratifikasi
 
Bowo menerima advance fee dari Asty sebagai bagian dari komitmen fee yang direalisasikan dalam bentuk 75 ribu dolar Singapura. Uang itu diberikan secara bertahap dari Mei hingga Agustus 2018.
 
Kemudian secara bertahap Bowo menerima komitmen fee dari Asty seiring dengan kerja sama antara PT HTK dan PT Pilog tercapai. Uang tersebut diterima Bowo melalui orang kepercayaannya, M Indung Andriani K.
 
Pada 1 Oktober 2018 Asty menyerahkan Rp221 juta dan pada 1 November 2018 sebanyak 59 ribu dolar Singapura. Kemudian pada 20 Desember 2018 sebanyak 21 ribu dolar Singapura, pada 26 Februari 2019 sejumlah 7.819 dolar Singapura dan 27 Maret 2019 sebesar Rp89 juta.
 
"Bahwa uang fee yang telah diterima terdakwa seluruhnya sebesar 163.733 dolar Singapura dan Rp311.022.932," ujar Jaksa Kiki.
 
Baca juga:KPK Bawa Dua Koper dari Ruang Kerja Dhamantra
 
Selain total suap tersebut, Bowo turut diduga menerima suap dari Direktur Utama PT Ardila Insan Sejahtera, Lamidi Jimat. Anggota DPR periode 2014-2019 itu menerima Rp300 juta dari Lamidi. Suap diberikan agar Bowo membantu PT Ardila Insan Sejahtera menagihkan pembayaran hutang ke PT Djakarta LLOYD.
 
Bowo disangkakan melanggar Pasal 12 huruf b atau 11 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 
Bowo juga didakwa menerima gratifikasi 700 ribu dolar Singapura dan Rp600 juta. Penerimaan uang haram itu terjadi saat dia menjabat wakil ketua komisi VI dan Badan Anggaran (Banggar) DPR antara sejak 2016 hingga 2018.
 
Atas perbuatannya, Bowo dinilai melanggar Pasal 12 B ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 65 KUH Pidana.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif