Menteri Sosial (Mensos) Juliari P Batubara (rompi oranye). MI/Susanto
Menteri Sosial (Mensos) Juliari P Batubara (rompi oranye). MI/Susanto

Juliari Tak Mau Buka Mulut Soal Korupsi Bansos

Nasional kpk kasus korupsi Korupsi Bansos Covid-19 Juliari P Batubara
Candra Yuri Nuralam • 21 Januari 2021 10:23
Jakarta: Mantan Menteri Sosial Juliari Peter Batubara tidak mau buka mulut ihwal dugaan korupsi pengadaan bantuan sosial (bansos). Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus memutar otak untuk membongkar akar kasus rasuah tersebut.
 
"Sekarang kalau ada seorang yang mempunyai informasi dia tidak mau membuka sama sekali kan kita cari yang di bawah," kata Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Karyoto di Jakarta, Kamis, 21 Januari 2021.
 
Semenjak ditahan, Juliari baru sekali dibawa ke ruang penyidikan untuk menjalani pemeriksaan. Pemeriksaan Juliari bertolak belakang dengan penyidikan kasus lain, misalnya mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo yang kerap diperiksa dalam kasus dugaan korupsi ekspor benih lobster.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


KPK tidak bisa memaksa Juliari mengungkap terang kasus dugaan korupsi bansos. Penyidik tak akan berhenti mencari benang merah dari kasus ini.
 
"Kita cari pendukung yang ke arah sana,," ujar Karyoto.
 
Lembaga Antikorupsi akan mencari bukti rasuah dalam kasus ini dari pihak lain. Sebab, kata Karyoto, Juliari tidak sepenuhnya mengetahui proses korupsi bansos.
 
"Tidak mungkin secara spesifik di lapangan dia (Juliari) ikut ini ikut ini, itu kan tergantung saksi-saksi itu bicara apa," ucap Karyoto.
 
Juliari Peter Batubara ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan bansos sembako covid-19 di Jabodetabek pada 2020. Kasus ini menjerat empat tersangka lain, yakni dua pejabat pembuat komitmen (PPK) Kemensos Adi Wahyono dan Matheus Joko Santoso, serta pihak swasta Ardian IM dan Harry Sidabuke.
 
Baca: KPK Tak Percaya Juliari Hanya Kantongi Duit Rasuah Rp17 Miliar
 
KPK menduga kongkalikong para tersangka membuat Juliari menerima Rp17 miliar dari dua periode pengadaan bansos sembako. Kasus ini terungkap bermula dari penangkapan Matheus. KPK mengendus adanya pemberian uang dari para tersangka dan sejumlah pihak, salah satunya kepada Juliari.
 
Penyerahan uang dilakukan pada Sabtu dini hari, 5 Desember 2020. Fulus Rp14,5 miliar dari Ardian dan Harry itu disimpan dalam tujuh koper, tiga tas ransel, dan amplop kecil.
 
Juliari disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.
 
Matheus dan Adi disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 huruf (i) UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.
 
Sementara itu, Ardian dan Harry disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif