Sidang kasus dugaan pemerasan yang dilakukan pejabat Kantor Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta, di Pengadilan Tipikor, Serang, Banten, Senin, 18 April 2022. Dok. Istimewa
Sidang kasus dugaan pemerasan yang dilakukan pejabat Kantor Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta, di Pengadilan Tipikor, Serang, Banten, Senin, 18 April 2022. Dok. Istimewa

Kasus Bea Cukai Soetta, Saksi Mengakui Terima 'Uang Bensin'

Nasional kasus pemerasan Kasus Suap kasus korupsi Pengadilan
Achmad Zulfikar Fazli • 19 April 2022 21:50
Jakarta: Kasus dugaan pemerasan di Kantor Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) menguak fakta baru. Uang hasil dari dugaan suap hanya mengalir di antara teman seangkatan terdakwa Vincentius Istiko Murtiadji (VIM) saat kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).
 
Fakta tersebut terungkap dari kesaksian pegawai Kantor Bea Cukai Bandara Soetta, Muhyidin dan Arief Andrian, dalam sidang kasus dugaan pemerasan yang dilakukan pejabat Kantor Bea Cukai Bandara Soetta, dengan terdakwa Istiko dan Qurnia Ahmad Bukhari (QAB), di Pengadilan Tipikor, Serang, Banten, Senin, 18 April 2022
 
Muhyidin yang menjabat Kasi Pabean 1 Pelayanan dan Fasilitas Pabean dan Cukai (PFPC) 1 mengakui menerima uang Rp20 juta dari Istiko selaku Kasie Fasilitas PFPC 1. "Untuk uang bensin," ujar Muhyidin.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Istilah 'uang bensin' tersebut didapat dari setoran PT Sinergi Karya Kharisma (SKK) pada kasus dugaan suap perusahaan jasa titipan tersebut. Kasus tersebut mencuat setelah terdakwa Istiko mengakui menerima Rp3,5 miliar pada 2020-2021 dari PT Sinergi Karya Kharisma (SKK) soal permintaan uang Rp1.000 dari setiap importasi barang di Bandara Soetta.
 
Kemudian, majelis hakim mengonfirmasi mengapa pemberian uang bensin bisa mencapai Rp20 juta. Muhyidin berkilah hanya menerima uang itu dari Istiko tanpa ada rasa penasaran apa pun. Dia hanya mengetahui uang itu untuk beli bensin.
 
Namun, saat kasus pemerasan mencuat, Muhyidin mengembalikan 'uang bensin' tersebut.
 
Baca: Saksi Sebut OTT Pejabat Bea Cukai Soetta Batal Akibat Jam Kerja
 
Arief  juga mengakui menerima 'uang bensin' Rp20 juta. Bahkan, Arief menerima uang dari rekannya, Husni Mawardi sampai Rp150 juta yang diserahkan sebanyak lima kali.
 
Husni Mawardi adalah Kasi Pabean PFPC 2 yang juga teman seangkatan Istiko, namun bukan anak buah langsung dari Qurnia.
 
Pemberian 'uang bensin' ini hanya beredar di kalangan teman-teman seangkatan Istiko saat kuliah di STAN. Arief juga mengakui menerima uang tersebut dari teman seangkatan sewaktu kuliah di Prodip Bea Cukai STAN.
 
Sementara itu, penasihat hukum Qurnia, Bayu Prasetio, mempertanyakan mengapa kliennya ikut dijerat kasus ini, padahal tidak menerima 'uang bensin' tersebut.
 
Qurnia didakwa menerima aliran dana dari PT SKK. Padahal hingga tiga kali sidang, belum ada bukti Qurnia ikut menerima dana tersebut.
 
"Klien kami adalah junior dari terdakwa VIM dan para saksi yang menerima uang bensin tersebut," ujar Bayu.
 
Meski junior, Qurnia adalah atasan mereka di Kantor Bea Cukai Bandara Soetta. "Pada saat persidangan, berdasarkan keterangan saksi dari team IBI Rudy Hartono, saat diperiksa terdakwa VIM menyatakan menerima uang dari PT SKK dan baru akan memberikannya kepada QAB setelah QAB nanti keluar atau mutasi dari jabatannya di Bea Cukai Soekarno-Hatta," ujar Bayu.
 
Hingga keluar dan dimutasi ke Palangka Raya, Kalimantan Timur, uang tersebut tidak sama sekali diterima Qurnia. Pasalnya, dia memang tidak tahu dan tidak terkait tentang adanya penerimaan uang oleh Istiko dari PT SKK.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif