Direktur Keamanan Negara (Kamneg) Badan Intelijen dan Keamanan (BIK) Polri Brigjen Umar Effendi /Medcom.id/Siti
Direktur Keamanan Negara (Kamneg) Badan Intelijen dan Keamanan (BIK) Polri Brigjen Umar Effendi /Medcom.id/Siti

Polri Petakan Masjid se-Indonesia Cegah Radikalisme dan Terorisme

Nasional terorisme polri Masjid Teroris Penegakan Hukum
Siti Yona Hukmana • 26 Januari 2022 22:48
Jakarta: Polri bakal memetakan atau mapping masjid-masjid se-Indonesia. Upaya itu dalam rangka mencegah penyebaran paham radikalisme dan terorisme lewat rumah ibadah. 
 
"Masjid ini sekarang 'warna'-nya macam-macam ada yang hijau, ada yang keras, ada yang semi keras dan sebagainya," kata Direktur Keamanan Negara (Kamneg) Badan Intelijen dan Keamanan (BIK) Polri Brigjen Umar Effendi dalam Halaqah Kebangsaan I Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) MUI, Rabu, 26 Januari 2022.  
 
Maka itu, Umar menekankan akan memetakan masjid-masjid yang ada di Indonesia. Dia menyebut permintaan pemetaan masjid itu disampaikan saat diskusi dengan sejumlah pihak beberapa waktu lalu. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Nah, ini menjadi perhatian khusus kita semua," ujar jenderal bintang satu itu. 
 
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Ahmad Nurwakhid setuju dengan pemetaan masjid-masjid tersebut. Menurut dia, masjid harus digunakan untuk ibadah, ukhuwah, dan silaturahmi. 
 
Baca: Polri: Hanya di Indonesia Pelaku Terorisme Sekeluarga
 
Namun, kenyataanya, kata dia, masjid kerap disalahgunakan oleh oknum-oknum ustaz atau oknum tokoh agama. Salah satunya membangun paradigma intoleransi, kebencian, anti pemerintahan dan mempolitisasi agama. 
 
"Ini harus di-mapping atau dipetakan, masjid mana yang moderat, masjid mana yang sering disalahgunakan. Nah, itu harus ada mapping-nya harus ada datanya," ujar Ahmad kepada Medcom.id, Rabu, 26 Januari 2022. 
 
Ahmad mengaku BNPT sejatinya telah melakukan pemetaan masjid-masjid. Namun, dia enggan membuka data masjid-masjid yang kedapatan menyebar paham radikalisme dan terorisme tersebut. 
 
Hanya, dia tidak memungkiri suatu saat akan dibongkar Kepala BNPT Komjen Boy Rafly Amar atau Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Menurutnya, pengungkapan data masjid disalahgunakan itu tidak boleh terburu-buru, karena dapat memicu kegaduhan. 
 
"Informasi itu benar (ada masjid yang disalahgunakan), tetapi tidak produktif karena bisa menimbulkan kegaduhan," ungkap Ahmad. 
 
Ahmad mengatakan Kepala BNPT sempat membeberkan ratusan pondok pesantren terafiliasi dengan kelompok radikal dan teroris. Namun, tidak disebutkan sebaran wilayah dan nama-nama pondok pesantren tersebut. 
 
Menurut dia, data itu menjadi rahasia BNPT. Data itu tidak boleh diungkap karena Indonesia belum punya payung hukum atau regulasi terkait pelarangan penyebaran paham radikalisme di Tanah Air. 
 
"Yang dilarang paham terorisme. Misalnya masjid ini dikuasai oleh kelompok jaringan teror, nah itu baru kita publish (ungkap)," ujar jenderal polisi bintang satu itu. 

 
(ADN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif