Sidang terdakwa Direktur Utama PT Fajar Mulia Transindo sekaligus penasihat PT Citra Gemini Mulia, Pieko Nyotosetiadi. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Sidang terdakwa Direktur Utama PT Fajar Mulia Transindo sekaligus penasihat PT Citra Gemini Mulia, Pieko Nyotosetiadi. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Penyuap Eks Dirut PTPN III Dituntut Dua Tahun Penjara

Nasional kasus suap
Fachri Audhia Hafiez • 16 Januari 2020 01:51
Jakarta: Jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Direktur Utama PT Fajar Mulia Transindo sekaligus penasihat PT Citra Gemini Mulia, Pieko Nyotosetiadi dihukum dua tahun penjara. Ia juga dituntut hukuman berupa denda Rp250 juta subsider enam bulan kurungan.
 
"Menuntut agar majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini untuk memutuskan, menyatakan terdakwa Pieko Nyotosetiadi terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi," kata Jaksa KPK Subari Kurniawan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 15 Januari 2020.
 
Pieko dinilai terbukti menyuap Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, Dolly Pulungan, sebesar SGD345 ribu atau setara Rp3,55 miliar. Pemberian rasuah itu dilakukan bersama-sama Direktur Pemasaran PT PTPN III, I Kadek Kertha Laksana.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Suap itu dilakukan agar Dolly dan Kadek Kertha memberikan long term contract (LTC) atau kontrak jangka panjang kepada Pieko, untuk menggarap proyek distribusi gula kristal putih.
 
LTC merupakan kontrak jangka panjang yang mewajibkan pembeli gula membeli dengan ikatan perjanjian dengan PTPN III dengan harga ditentukan setiap bulan. Hal ini guna mencegah permainan dari pembeli yang hanya membeli gula saat harga murah.
 
Gula kristal putih itu diproduksi petani gula dan PTPN seluruh Indonesia. Distribusi gula tersebut sejatinya dikoordinir melalui PTPN III holding perkebunan.
 
Mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Muhammad Syarkawi Rauf disebut turut menerima fulus dalam perkara ini. Syarkawi diyakini menerima uang SGD190.300 atau setara Rp1,9 miliar dalam dua tahap.
 
Pieko diduga memberikan uang tersebut untuk menghindari kesan adanya praktik monopoli perdagangan melalui LTC oleh perusahaannya. Dua perusahaan tersebut ialah PT Fajar Mulia Transindo, dan PT Citra Gemini Mulia.
 
Perbuatan Pieko dinilai terbukti melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf b Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 
Dalam pertimbangan hukuman yang memberatkan, perbuatan Pieko dinilai tidak mendukung upaya pemerintah dan masyarakat yang tengah giat dalam pemberantasan tindak pidana korupsi khususnya dalam sektor pangan sebagai kebutuhan dasar masyarakat.
 
Sedangkan hal yang meringankan, Pieko bertindak sopan, belum pernah dihukum, berterus terang selama persidangan, kerap sakit karena usia lanjut, dan menyesali perbuatannya.
 
Sepanjang persidangan, sebanyak 32 saksi dihadirkan di muka persidangan. Barang bukti sejumlah 276 turut diperlihatkan jaksa penuntut umum.
 
Pieko akan mengajukan pleidoi atau nota pembelaan merespons tuntutan jaksa yang dibacakan selama kurang lebih 45 menit itu. Majelis menjadwalkan sidang digelar pada Jumat, 24 Januari 2020.
 

(DMR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif