Lambang KPK. Foto: MI/Panca Syurkani.
Lambang KPK. Foto: MI/Panca Syurkani.

Kejati DKI Bantah Anak Jaksa Agung Ditangkap KPK

Nasional OTT KPK
Cindy • 03 Juli 2019 14:34
Jakarta: Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta Warih Sadono menegaskan Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Barat (Kejari Jakbar) Bayu Adhinugroho Arianto tidak terkait operasi tangka tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bayu adalah anak Jaksa Agung M Prasetyo.
 
"Tidak benar, tidak ada bukti-bukti keterlibatan Kepala Kejari Jakbar. Kita sudah melakukan pemeriksaan melalui pengawasan," kata Warih di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Rabu, 3 Juli 2019.
 
Dia menjelaskan kasus ini bermula dari laporan tersangka Sendy Perico dan kuasa hukumnya Alvin Suherman ke Polda Metro Jaya. Setelah kasus diproses, polisi melimpahkan berkas perkara kepada Kejati DKI Jakarta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perkara ini disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat. Berkas perkara pun dilimpahkan ke Kejari Jakbar. "Karena penanganan perkara, penuntutan itu di PN Jakbar, jadi Kejari Jakbar sifatnya administratif terkait administrasi penanganan perkara," ucap Warih.
 
KPK menetapkan Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejati DKI Jakarta Agus Winoto sebagai tersangka kasus dugaan suap penanganan perkara di PN Jakbar. Agus menjadi 'pasien' KPK bersama Sendy Perico, pihak yang berperkara, dan kuasa hukumnya, Alvin Suherman.
 
Suap berawal saat Sendy melaporkan pihak lain yang menipu dan melarikan uang investasinya sebesar Rp11 miliar. Sebelum tuntutan dibacakan, Sendy dan Alvin telah menyiapkan uang untuk jaksa penuntut umum agar memperberat tuntutan kepada penipu Sendy.
 
Namun, saat persidangan berlangsung, Sendy dan pihak yang dituntut memutuskan berdamai. Setelah proses perdamaian rampung pada 22 Mei 2019, pihak yang dituntut meminta Sendy meringankan tuntutannya, yakni satu tahun penjara.
 
Alvin selaku kuasa hukum Sendy selanjutnya mendekati jaksa melalui seorang perantara. Sang perantara kemudian menginformasikan rencana tuntutannya selama dua tahun.
 
Alvin kemudian diminta menyiapkan uang Rp200 juta dan dokumen perdamaian jika ingin tuntutannya berkurang menjadi satu tahun. Alvin dan Sendy menyanggupi permintaan dan berjanji menyerahkan syarat tersebut, Jumat, 28 Juni 2019.
 
Sendy menuju bank dan meminta Ruskian Suherman, pihak swasta, mengantar uang ke Alvin di sebuah pusat perbelanjaan di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat pagi. Sekitar pukul 11.00 WIB, Sugiman Sugita mendatangi Alvin di tempat yang sama untuk menyerahkan dokumen perdamaian.
 
Baca: KPK Apresiasi Pencopotan Aspidum Kejati DKI
 
Sekitar pukul 12.00 WIB, Ruskian mendatangi Alvin menyerahkan uang Rp200 juta yang dibungkus dalam kantong keresek hitam. Alvin kemudian menemui Kepala Subdirektorat Penuntutan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Yadi Herdianto di kompleks perbelanjaan yang sama untuk menyerahkan kantong keresek berwarna hitam yang diduga berisi uang Rp200 juta dan dokumen perdamaian. Yadi selanjutnya menuju Ke0jati DKI Jakarta untuk menyerahkan uang tersebut kepada Agus Winoto.
 
Agus Winoto selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11‎ Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
 
Alvin dan Sendy selaku pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif