Terpidana kasus Bank Bali Djoko Tjandra dibawa kepolisian saat penandatanganan berita acara penyerahterimaan kepada Kejaksaan Agung di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Jumat, 31 Juli 2020. Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Terpidana kasus Bank Bali Djoko Tjandra dibawa kepolisian saat penandatanganan berita acara penyerahterimaan kepada Kejaksaan Agung di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Jumat, 31 Juli 2020. Foto: Antara/M Risyal Hidayat

Djoko Tjandra Jadi Warga Binaan Lapas Salemba

Nasional kasus korupsi Djoko Tjandra
Siti Yona Hukmana • 07 Agustus 2020 19:45
Jakarta: Narapidana kasus korupsi hak tagih Bank Bali Djoko Soegiarto Tjandra resmi menjadi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Salemba, Jakarta Pusat. Dia dipindahkan dari Rumah Tahanan (Rutan) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.
 
"Kita telah melaksanakan pemeriksaan secara intensif terhadap Djoko Tjandra, pemeriksaan kami rasa sudah cukup. Selanjutnya, kami berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan untuk penempatan saudara Djoko," kata Kepala Bareskrim Komisaris Jenderal (Komjen) Listyo Sigit Prabowo di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat, 7 Agustus 2020.
 
Direktur Jenderal Pemasyarakatan Reinhard Silitonga menerima penyerahan kembali Djoko Tjandra. Eks buron itu akan digiring ke Lapas Salemba, Jumat malam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami akan pindahkan untuk menjalani pidananya," ujar Reinhard.
 
Djoko Tjandra ditangkap di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Kamis, 30 Juli 2020. Dia langsung dijemput Komjen Listyo.
 
Djoko ditahan di Rutan cabang Salemba, Mabes Polri, yang terletak di Bareskrim Polri untuk menjalani pemeriksaan dalam kasus surat jalan palsu. Dia dikorek guna membongkar pejabat yang terlibat dalam pelariannya.
 
Jauh sebelum kasusnya meledak, Djoko Tjandra pernah ditahan Korps Adhyaksa pada 29 September 1999 hingga Agustus 2000. Namun dalam persidangan, hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan memutuskan Djoko bebas dari tuntutan.
 
Baca: Tersangka Penghapusan Red Notice Djoko Tjandra Segera Diumumkan
 
Pengadilan menganggap kasus ini bukan perkara pidana, melainkan perdata. Kejaksaan mengajukan peninjauan kembali (PK) terhadap vonis terhadap Djoko ke Mahkamah Agung (MA) pada Oktober 2008.
 
MA memvonis Djoko dengan dua tahun penjara dan harus membayar Rp15 juta. Namun, Djoko melarikan diri pada10 Juni 2009, tepat sehari sebelum putusan dijatuhkan.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif