Tersangka kasus dugaan suap distribusi pupuk, Bowo Sidik Pangarso bersiap menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta. (Foto: ANTARA/Dhemas Reviyanto)
Tersangka kasus dugaan suap distribusi pupuk, Bowo Sidik Pangarso bersiap menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta. (Foto: ANTARA/Dhemas Reviyanto)

Bowo Sidik Sebut Pemberian Fee Inisiatif PT HTK

Nasional OTT KPK
Faisal Abdalla • 16 September 2019 14:40
Jakarta: Anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso mengaku tak pernah meminta fee kepada PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) terkait kontrak kerja sama sewa kapal antara PT HTK dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). Bowo menyebut fee itu diberikan atas inisiatif PT HTK.
 
"Saya tak pernah meminta fee terhadap pekerjaan ini," kata Bowo saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Besar, Jakarta, Senin, 16 September 2019.
 
Bowo mengakui pihak PT HTK sempat membicarakan soal duit bagi hasil untuk dirinya. PT HTK meminta pembagian fee itu diserahkan melalui transaksi antarperusahaan. Bowo menganggap transaksi itu merupakan bisnis biasa. Makanya, Bowo menyodorkan perusahaanya, PT Inersia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Mohon maaf Yang Mulia, Pak Jaksa, karena saya menganggap ini bisnis biasa, karena Bu Asty (Chief Commercial Officer PT HTK, Asty Winasty) minta perusahaan, saya sodorkan perusahaan saya," ujarnya.
 
Bowo kemudian menyerahkan seluruh transaksi dengan PT HTK kepada Manajer Keuangan PT Inersia, M Indung Andriani. Indung selalu mencatat dan melaporkan setiap transaksi dari PT HTK kepada dirinya.
 
"Kesalahan saya, menganggap ini bisnis biasa, karena Humpuss minta (transaksi melalui) perusahaan. Kemudian saya tahu persis, ini untuk memberikan keuntungan atas pekerjaan di Humpuss," tuturnya.
 
Dalam perkara ini, KPK menetapkan tiga orang tersangka. Mereka adalah Marketing manager PT HTK Asty Winasti bersama eks anggota Komisi VI DPR RI Bowo Sidik Pangarso dan Indung. Bowo dan Idung sebagai penerima, sedangkan Asty pemberi suap.
 
Bowo diduga meminta fee dari PT HTK atas biaya angkut, USD2 per metrik ton. Diduga, dia sudah enam kali menerima fee di sejumlah tempat seperti rumah sakit, hotel dan kantor PT HTK sejumlah Rp221 juta dan USD85,130.
 
Dari Bowo, penyidik menyita uang sebesar Rp8 miliar dalam 82 kardus dan dua boks kontainer. Uang Rp8 miliar itu terdiri dari pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu yang sudah dimasukkan ke dalam amplop putih.
 
Bowo dan Indung selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001.
 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif