Pelaksana tugas Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu DKPP Muhammad Foto: MI/Susanto
Pelaksana tugas Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu DKPP Muhammad Foto: MI/Susanto

Kedekatan Wahyu dengan Staf PDIP Rawan Konflik Kepentingan

Nasional kpu OTT KPK
Whisnu Mardiansyah • 15 Januari 2020 19:00
Jakarta: Pengakuan Komisioner KPU Wahyu Setiawan dengan staf PDI Perjuangan menjadi pertimbangan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) buat menghukum Wahyu. Dia dinilai melanggar asas profesionalitas sebagai penyelenggara pemilu.
 
"Kita sempat tanya, kenapa tidak berusaha mencegah pertemuan-pertemuan di luar kantor. Alasannya sulit menghindar karena pertemanan. Tentu bagian itu akan kita nilai dalam perspektif kode etik," kata Pelaksana Tugas Ketua DKPP Muhammad di gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 15 Januari 2020.
 
Muhammad menegaskan, setiap penyelenggara pemilu harus menjaga profesionalitas dan netralitas. Pertemuan Wahyu di luar kantor dengan kader PDIP dinilai rawan konflik kepentingan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Setiap penyelenggara pemilu harus mampu menjaga potensi konflik kepentingan. Dalam aturan DKPP itu, tegas dikatakan supaya menghindari pertemuan-pertemuan di luar lembaga atau kantornya yang telah ditetapkan supaya menghindari adanya kecurigaan," kata Muhammad.
 
DKPP rencananya akan membacakan hasil sidang Wahyu Setiawan besok. Hasilnya akan diserahkan kepada Presiden Joko Widodo.
 
"DKPP akan menyampaikan ke KPU, Bawaslu, dan Presiden selaku pejabat atau eksekutif yang melantik berdasarkan SK kepada Wahyu," jelasnya.
 
Komisioner KPU Wahyu Setiawan mengakui dalam posisi yang sulit menanggapi permintaan PDIP memasukkan nama Harun Masiku sebagai caleg terpilih. Saeful, salah satu staf Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristianto adalah kawan dekatnya.
 
"Saya dalam posisi yang sulit karena orang-orang ada Mbak Tio, Mas Saeful, Mas Doni itu kawan baik says," kata Wahyu dalam sidang etik Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) yang digelar di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 15 Januari 2020.
 
Dua nama Agustiani Tio Fridelina dan Saeful selaku penyuap sudah resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Diketahui, para tersangka kerap mengajak bertemu di luar kantor untuk membahas PAW Harun Masiku.
 
"Saya sudah menjelaskan dan saya tidak, tidak, tidak. Pandangan Mas Hasyim (komisioner KPU) sama dengan pandangan saya itu tidak bisa," tegas Wahyu.
 
Wahyu mengakui dalam berkomunikasi dengan Pra penyuapnya, sulit membedakan antara hubungan kawan dekat dan pekerjaan. Namun, dalam sidang tadi Wahyu enggan menjelaskan detail materi yang masuk pokok perkara penyidikan di KPK.
 
"Tetapi memang dalam berkomunikasi mungkin karena saya teman lama Bu Tio orang yang saya hormati dan saya anggap kakak saya sendiri. Jadi saya sangat sulit situasinya," jelas Wahyu.
 

 

(FZN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif