Ilustrasi rumah dinas Ferdy Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Dok Metro TV
Ilustrasi rumah dinas Ferdy Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Dok Metro TV

Irfan Widiyanto Keberatan dengan Keterangan Ketua RT Kompleks Polri Terkait Pergantian CCTV

Fachri Audhia Hafiez • 24 November 2022 14:24
Jakarta: Terdakwa Irfan Widyanto membantah keterangan Ketua RT 05 RW 01 Kompleks Polri, Seno Sukarto. Keterangan itu terkait pergantian DVR CCTV di kawasan rumah dinas Ferdy Sambo, Kompleks Polri.
 
"Keberatan saya bahwa, keterangan dari Pak RT ini menyatakan bahwa CCTV diganti oleh orang tak dikenal," kata Irfan saat persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Kamis, 24 November 2022.
 
Salah satu anggota majelis hakim mengatakan bahwa pengakuan pergantian DVR CCTV yang tidak diketahui identitasnya merupakan pernyataan dari satuan pengamanan (satpam) Kompleks Polri, yaitu, Zafar dan Marzuki. Lalu, hakim menanyakan apakah Irfan meninggalkan kontak saat pergantian DVR CCTV ke Zafar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Meninggalkan nama, nomor handphone, akui dari polisi enggak?" tanya hakim.
 
"Siap dari Bareskrim yang mulia," ujar Irfan.
 

Baca: Ketua RT Rumah Ferdy Sambo Terima Informasi Pergantian CCTV oleh Orang Misterius


Seno Sukarto mengaku menerima informasi adanya pergantian DVR CCTV di sekitar rumah Ferdy Sambo setelah peristiwa penembakan terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J. Namun, tidak diketahui pihak yang melakukan pergantian tersebut.
 
Keterangan itu tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Seno saat diperiksa penyidik. Keterangan Seno dibacakan jaksa karena tengah sakit dan tak bisa hadir di persidangan.
 
Seno menanyakan satpam yang bertugas pada 8-9 Juli 2022, yakni Marzuki dan Zafar. Tetapi, keduanya mengaku tidak mengetahui sosok yang melakukan pergantian DVR CCTV.
 
"Marzuki dan Zafar menjelaskan scara sekilas bahwa DVR diganti oleh orang tidak dikenal pada 9 Juli 2022," ucap Seno.
 
Irfan Widiyanto didakwa terlibat kasus obstruction of justice dalam perkara pembunuhan berencana Brigadir J.
 
Perbuatan itu dilakukan bersama-sama Hendra Kurniawan, Agus Nurpatria Adi Purnama, Arif Rachman Arifin, Baiquni Wibowo, dan Chuck Putranto serta Ferdy Sambo. Mereka juga berstatus terdakwa dalam perkara ini.
 
Mereka didakwa melanggar Pasal 49 jo Pasal 33 subsider Pasal 48 Jo Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Atau diancam dengan pidana dalam Pasal 233 KUHP subsider Pasal 221 ayat (1) ke-2 jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
 
(AZF)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif