Dahnil Anzar Dicecar 43 Pertanyaan
Dahnil Anzar Simanjutak/Medcom.id/Yona
Jakarta: Koordinator juru bicara pemenangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, dicecar 43 pertanyaan. Ia menjadi saksi kasus penyebaran berita bohong penganiayaan Ratna Sarumpaet.

"Ada 43 pertanyaan dan telah dijawab oleh Pak Dahnil secara baik, lugas, dan tegas. Alhamdulillah berjalan sesuai yang kita harapkan," kata kuasa hukum Dahnil, Djamaluddin Koedoeboen, di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa, 16 Oktober 2018.

Djamaluddin menjelaskan Dahnil diperlakukan sangat baik selama 8 jam pemeriksaan. Ia bahkan disuguhi makanan dan minuman.


Dahnil ditemani 7 dari 20 pengacara selama pemeriksaan. Situasi berjalan kondusif.

Baca: Polisi Periksa Juru Bicara Pemenangan Prabowo

Kuasa Hukum Dahnil lainnya, Hendarsam Marantopo, menjelaskan Dahnil menjadi saksi karena sempat membenarkan penganiayaan Ratna di Bandung, Jawa Barat, pada 21 September 2018.

"Perlu kami tegaskan sebagai saksi ini karena melihat, mengetahui sendiri tentang kejadian sebenarnya," terang Hendarsam.

Dahnil, terang Hendarsam, tak mengenal Ratna secara pribadi. Dahnil hanya menjadi salah satu korban kebohongan Ratna. Sama seperti Prabowo Subianto dan beberapa orang lainnya.

Baca: Bawaslu Kaji Dugaan Pelanggaran Pemilu atas Kebohongan Ratna

Dahnil bahkan belum pernah bertemu langsung dengan Ratna yang ternyata menjalani operasi platsik, bukan dianaya. Keterangan Dahnil juga tak terlalu signifikan secara hukum.

"Cuma apabila penyidik mempunyai kewenangan, inisiatif memanggil Pak Dahnil maka kita hormati," ucap dia.

Pertanyaan yang dilontarkan penyidik pun terlalu substantif. Penyidik hanya menanyakan pertemuan pada Selasa, 2 Oktober 2018. Dahnil diminta menjelaskan alur cerita yang Ratna ungkapkan ketika kliennya dan beberapa saksi lain bertemu.

Polisi Harus Profesional

Pada kesempatan yang sama, Dahnil menegaskan Polri harus profesional menangani kasus ini. Korps Bhayangkara jangan sampai ikut mempolitisasi kasus tersebut.

"Polisi  tidak boleh terbawa arus politisasi itu berbahaya sekali, saya berharap polisi bisa bekerja profesional, polisi bekerja pada ruang hukum yang sebagai mana mestinya. Itu catatan pentingnya," terang Dahnil.

Baca: Plt Kadisparbud DKI Dicecar soal Sponsorship Ratna

Dahnil mengaku memercayai Ratna karena berada satu tim untuk memenangkan Prabowo-Sandi. Sosok Ratna, tegas dia, memang cukup dipercaya tim pemenangan capres-cawapres nomor urut 02 itu.

"Kami percaya dengan Bu Ratna, tim itu percaya dengan Bu Ratna. Dia anggota tim, kami percaya dia," ucap Dahnil.





(OJE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id