Rilis kasus penipuan berkedok lelang di Bareskrim Polri. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.
Rilis kasus penipuan berkedok lelang di Bareskrim Polri. Foto: Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez.

Napi di Sumut Otak Penipuan Berkedok Lelang

Nasional penipuan
Kautsar Widya Prabowo • 08 Juli 2019 17:38
Jakarta: HAS, narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Siborong-Borong, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara (Sumut), menjadi otak penipuan mengatasnamakan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Kasus itu dibongkar Subdirektorat I Direktorat Tindak Pidana (Dittipid) Siber Badan Reserse Kriminal (Bareskrim).
 
Kepala Subdit I Dittipid Siber Bareskrim Mabes Polri Kombes Pol Dani Kustoni mengatakan HAS adalah napi kasus narkoba. Dalam melancarkan aksinya, pelaku dibantu dengan lima rekannya: MF, MA, AF, KRY, dan AT.
 
"Korbannya banyak hampir di seluruh Indonesia," kata Dani di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin, 8 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, HAS menggunakan media sosial Facebook untuk mencari korban dan menghubunginya melalui WhatsApp. HAS yang mengaku sebagai pejabat KPKNL menawarkan mobil murah di bawah harga standar.
 
Untuk meyakinkan korbannya, pelaku menggunakan foto profil pejabat KPKNL. "Faktanya pihak KPKNL tidak pernah mengadakan kegiatan lelang kendaraan tersebut," tutur dia..
 
Sementara itu, MF dan tersangka lainnya memiliki tugas untuk menyiapkan rekening penampung hasil kejahatan. Mereka juga menjadi eksekutor yang mengambil uang hasil kejahatan.
 
Dalam penipuan tersebut, sebanyak 28 orang menjadi korban. Jumlah tersebut belum termasuk korban lain yang menolak melapor kepada polisi. Dari penipuan ini, para tersangka mendapat keuntungan hingga Rp1,17 miliar .
 
Baca: Upaya Banding Istri Bos ABU Tours Ditolak
 
"Oleh karena itu kami imbau jangan mudah tergiur pastikan akun riil kemudian di kofirmasi ke yang bersangkutan misal ke KPKNL," pinta Dani.
 
Dari tangan tersangka, polisi berhasil menyita beragam barang bukti (barbuk). Benda ini meliputi 15 ponsel, dua buku tabungan rekening Mandiri, dua kartu ATM Mandiri, enam kartu ATM BNI, tiga kartu ATM BCA, satu kartu ATM BRI, bukti tranfer, uang tunai Rp5 juta.
 
Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 45a ayat 1 juncto Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 82 dan 85 UU Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana, Pasal 3,4,5 dan Pasal 10 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan atau Pasal 55 ayat 1 ke 1 juncto Pasal 64 KUHP. Mereka terancam hukuman pidana penjara 20 tahun dan atau denda Rp10 miliar.

 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif