Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Susanto.
Juru bicara KPK Febri Diansyah. Foto: MI/Susanto.

Tersangka Suap Krakatau Steel Menyerahkan Diri

Nasional krakatau steel OTT KPK
Damar Iradat • 26 Maret 2019 14:17
Jakarta: Salah satu tersangka kasus dugaan suap pengadaan barang dan jasa di PT Krakatau Steel, Kurniawan Eddy Tjokro (KET) menyerahkan diri ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kurniawan sebelumnya buron saat penyidik KPK menangkap tiga tersangka lainnya.
 
Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan Kurniawan datang ke KPK bersama kuasa hukumnya pada Selasa, 26 Maret 2019 sekitar pukul 10.30 WIB. Saat ini, penyidik tengah memeriksa secara intensif Kurniawan.
 
"Saat ini KPK sedang melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap tersangka KET yang saat OTT belum dibawa bersama yang lain," kata Febri saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, 26 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


KPK, lanjut Febri, menghargai iktikad baik Kurniawan sebagai bentuk sikap kooperatif dengan proses hukum. Febri berharap, Kurniawan dapat terbuka menjelaskan fakta-fakta yang ada terkait kasus ini.
 
"Semoga yang bersangkutan juga terbuka menjelaskan fakta-fakta yang ada secara jujur," tutur dia.
 
Baca juga:Dirut Krakatau Steel: OTT KPK Bukan karena Gaji Kecil
 
KPK sebelumnya menetapkan empat tersangka dalam kasus proyek pengadaan kontainer dan boiler di pabrik blast furnace Krakatau Steel, Cilegon, Banten. Selain Kurniawan, KPK juga menetapkan Kenneth Sutardja (KSU) sebagai tersangka, keduanya diduga sebagai pemberi suap. Kemudian, Direktur Teknologi dan Produksi Krakatau Steel Wisnu Kuncoro (WNU) dan Alexander Muskitta (AMU) dari swasta sebagai penerima suap.
 
Ihwal suap ini terjadi pada 2019, saat Direktorat Teknologi dan Produksi Krakatau Steel merencanakan kebutuhan barang dan peralatan, masing-masing bernilai Rp24 miliar dan Rp2,4 miliar. AMU diduga menawarkan beberapa rekanan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut kepada WNU dan disetujui.
 
AMU menyepakati commitment fee dengan rekanan yang disetujui untuk ditunjuk, yakni PT Grand Kartech dan Group Tjokro senilai 10 persen dari nilai kontrak. AMU diduga bertindak mewakili dan atas nama WNU sebagai Direktur Teknologi dan Produksi Krakatau Steel.
 
Selanjutnya, AMU meminta Rp50 juta kepada KSU dari PTGK dan Rp100 juta kepada KET dari GT. Pada 20 Maret 2019, AMU menerima cek Rp50 juta dari KET yang kemudian disetorkan ke rekening AMU.
 
Kemudian, AMU juga menerima uang sebanyak USD4 ribu atau setara Rp56,64 juta dan Rp45 juta di sebuah kedai kopi di Jakarta Selatan. Uang tersebut kemudian disetorkan ke rekening AMU.
 
Atas perbuatannya, WNU dan AMU sebagai penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sedangkan KSU dan KET selaku pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif