Warga Prancis, Francois Abello Camille (tengah). Medcom.id/Siti Yona Hukmana
Warga Prancis, Francois Abello Camille (tengah). Medcom.id/Siti Yona Hukmana

305 Korban WN Prancis Predator Anak Sulit Diidentifikasi

Nasional kekerasan seksual anak pedofilia
Candra Yuri Nuralam • 12 Juli 2020 05:24
Jakarta: Polisi sulit mengidentifikasi 305 korban predator anak berkewarganegaraan Prancis, Francois Abello Camille. Korban kebanyakan belum punya kartu tanda penduduk (KTP).
 
"Jadi sulit mencari identitasnya. Makanya kita pelan-pelan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Jakarta, Sabtu, 11 Juli 2020.
 
Kesulitan lainnya karena Francois enggan membeberkan identitas para korban. Ini menjadi tantangan Korps Bhayangkara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tersangkanya kurang kooperatif dalam menyampaikan apa pun karena dia mengakunya bergerak sendiri," ujar Yusri.
 
Hingga saat ini polisi masih belum mengidentifikasi ada warga negara asing yang menjadi korban Francois. Pekerjaan seluruh korbannya masih didalami.
 
"Ada korbannya yang anak jalanan, ada juga dia cari (korban) di mal. Jadi kalau dibilang enggak punya kerjaan, kan kita enggak tahu identitasnya," tutur Yusri.
 
Subdit 5 Renakta Dit Reskrimum Polda Metro Jaya menangkap Francois di Hotel Prinsen Park, Mangga Besar, Jakarta Barat, pada Juni 2020. Dia tertangkap basah dalam kondisi setengah telanjang di dalam kamar hotel bersama dua orang anak di bawah umur yang telah telanjang.
 
Baca: Istana Terus Pantau Kasus Kekerasan Seksual
 
Warga negara asing (WNA) itu diduga mengeksploitasi anak-anak secara ekonomi dan seksual. Dia diduga menggunakan modus child sexual grooming, atau mendekati korban secara emosional untuk tujuan akhir hubungan seksual.
 
Dari 305 korban, baru 17 anak yang telah terindentifikasi polisi. Anak yang menjadi korban pelecehan diberi imbalan Rp250 ribu sampai Rp1 juta.
 
Warga Prancis itu kini telah ditahan di Polda Metro Jaya. Dia dijerat pasal Pasal 81 junto 76D Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak dengan pidana penjara paling singkat lima tahun maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp5 miliar.
 
Dia juga dijerat Pasal 81 ayat (5) juncto 76D Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 dengan ancaman pidana mati, seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 10 tahun dan paling lama 20 tahun. Dia juga terancam dikenai hukuman kebiri kimia.
 

(SUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif