Ilustrasi KPK. Medcom.id/Fachri Auhdia Hafiez
Ilustrasi KPK. Medcom.id/Fachri Auhdia Hafiez

Pemilik Bank Yudha Bhakti Kembali Dipanggil Terkait Kasus Nurhadi

Nasional mahkamah agung Kasus Suap Suap di MA
Candra Yuri Nuralam • 30 Juni 2020 11:15
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Pemilik Bank Yudha Bhakti, Tjandra Mindhartha Gozali. Tjandra dipanggil untuk mendalami kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait perkara di Mahkamah Agung (MA) pada 2011-2016.
 
"Yang bersangkutan dipanggil sebagai saksi untuk tersangka NHD (mantan Sekretaris MA Nurhadi)," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK Ali Fikri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Selasa, 30 Juni 2020.
 
Ini merupakan panggilan kedua buat Mindharta. Dia sempat dipanggil pada Jumat, 26 Juni 2020, namun tak hadir tanpa keterangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


KPK juga memanggil seorang Wiraswasta, Sali, dan tiga orang tukang kebun; Mahmud, Ahmad Wahib, dan Rahmat, serta Ketua RW 003 dan Ketua RT 003, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Mega Mendung, Bogor, Muhtar Sanusi dan Ayub.
 
Mereka dinilai mengetahui tindakan rasuah yang dilakukan Nurhadi. Keterangan mereka untuk menguatkan bukti-bukti yang dimiliki penyidik.
 
(Baca: Pemilik Bank Yudha Bhakti Mangkir Dipanggil KPK)
 
Nurhadi diduga menerima suap Rp33,1 miliar dari Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto lewat menantu Nurhadi, Rezky Herbiono. Suap dimaksudkan memenangkan Hiendra dalam perkara perdata kepemilikan saham PT MIT. Nurhadi juga diduga menerima sembilan lembar cek dari Hiendra terkait Peninjauan Kembali (PK) perkara di MA.
 
Dia diduga mengantongi Rp12,9 miliar dalam kurun waktu Oktober 2014 sampai Agustus 2016. Gratifikasi diduga terkait pengurusan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan Peninjauan Kembali (PK) di MA, juga untuk Permohonan Perwalian.
 
Nurhadi dan Rezky disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) lebih subsider Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sementara Hiendra disangka melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b subsider Pasal 13 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 

(REN)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif