Pasukan Oranye Gadungan Penarik THR Ditangkap
Ilustrasi- Medcom.id.
Jakarta: Polisi menangkap tangan seorang pasukan oranye gadungan berinisial N. Dia ditangkap lantaran meminta Tunjangan Hari Raya (THR) dengan cara mengedarkan surat permintaan THR dan kupon tanda pembayaran retribusi kebersihan lingkungan palsu.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Isnawa Adji mengungkapkan, pelaku tertangkap di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa 5 Juni 2018 pukul 10.00 WIB. N ditangkap di tempat kursus Bahasa Inggris ILC. 

"Akhirnya polisi dan aparat kita berhasil menangkap orang yang meminta-minta THR ke para Wajib Retribusi (WR) dengan mengatasnamakan Dinas Kebersihan," kata Isnawa dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Rabu, 6 Juni 2018.


Isnama menyebut pelaku meminta iuran sebesar Rp20 ribu per kepala keluarga. Tak cuma itu, Kepala Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup (Satpel LH) Kecamatan Kebayoran Lama Saprudin menyebut surat tersebut beredar sejak awal puasa. 

"Dia juga minta ke pelaku usaha di sepanjang jalan Iskandar Muda," imbuh Saprudin. 

Sebagian besar pemilik usaha merupakan Wajib Retribusi. Mereka yang merasa keberatan lantas melaporkan perbuatan pelaku berinisial N itu.

"Para WR tersebut melakukan klarifikasi ke Kantor Camat dan Satpel LH Kebayoran Lama mengenai kebenaran surat itu. Kami tegaskan itu palsu," kata Saprudin.

Surat yang diedarkan pelaku sangat janggal lantaran masih menggunakan nama Dinas Kebersihan. Padahal sejak awal 2017 Dinas Kebersihan berganti nama menjadi Dinas Lingkungan Hidup.

Kejanggalan lainnya penulisan jabatan. Di surat itu yang bertandatangan yaitu Kepala Dinas Kebersihan Camatan. 

"Lalu NIP juga salah. Seharusnya 18 karakter tapi ini cuma sembilan karakter," ujarnya. 
 
Dari tangan pelaku didapati 134 lembar Kupon Tanda Pembayaran Retribusi Palsu, Surat Permohonan THR dengan kop surat Dinas Kebersihan Kecamatan Kebayoran Lama dan Tambora serta stempel palsu Dinas Kebersihan Kecamatan Kebayoran Lama. Pelaku disangka melanggar Pasal 263 KUHP tentang tindak pidana pemalsuan dengan ancaman hukuman penjara paling lama 6 tahun.
 



(REN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id