Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW Donal Fariz. Foto: Cindy/Medcom.id
Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW Donal Fariz. Foto: Cindy/Medcom.id

KPU-KPK Didorong Bekerja Sama Bangun Whistleblowing System

Nasional pemberantasan korupsi OTT KPK
Antara • 10 Januari 2020 11:34
Jakarta: Indonesia Corruption Watch (ICW) mendorong Komisi Pemilihan Umum (KPU) bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membangun whistleblowing system atau pelaporan pelanggaran. Langkah ini dinilai mencegah kembali timbulnya praktik korupsi di internal lembaga penyelenggara pemilu.
 
"Langkah ini bisa ditempuh sebagai upaya internal kontrol yang bertujuan sebagai langkah pencegahan (korupsi)," ujar Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW Donal Fariz melalui keterangan tertulis, Jumat, 10 Januari 2020.
 
Donal menjelaskan whistleblowing system memudahkan penyelenggara pemilu mengadukan adanya dugaan korupsi yang akan atau sudah terjadi di KPU. Sistem tersebut juga memudahkan KPU mengawasi seluruh jajarannya di setiap tingkatan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi memang KPU harus segera melakukan sejumlah langkah perbaikan internal agar praktik yang sama tidak berulang kembali," kata dia.
 
Donal menyayangkan Komisioner KPU Wahyu Setiawan terjerat kasus korupsi. Kasus ini akan berdampak pada tingkat kepercayaan publik terhadap KPU.
 
"Terlebih lagi ada tantangan besar di depan mata untuk menyelenggarakan Pilkada Serentak 2020 pada 270 daerah," kata dia.
 
Wahyu ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada Kamis, 9 Januari 2020. Wahyu diduga menerima suap terkait penetapan anggota DPR terpilih 2019-2024.
 
Suap itu diberikan kader PDI Perjuangan Harun Masiku agar WahyuWahyu memuluskan jalan Harun menjadi anggota DPR daerah pemilihan Sumatera Selatan I. Ia berkeinginan menggantikan caleg DPR terpilih Fraksi PDI Perjuangan Nazarudin Kiemas yang meninggal.
 
Wahyumeminta dana operasional sebesar Rp900 juta. Namun, Wahyu hanya menerima Rp600 juta.
 
Suap itu diduga diterima Wahyu dalam dua tahap. Pertama pada pertengahan Desember 2019. Saat itu, Wahyu menerima uang dari orang kepercayaannya, Agustiani Tio Fridelina, Rp200 juta di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.
 
Uang ini didapat Agustiani dari Saeful, pihak swasta. Namun KPK masih mendalami dari siapa sumber uang Rp200 juta itu.
 
Wahyu diduga kembali menerima suap Rp400 juta pada akhir Desember 2019. Uang tersebut masih ada di tangan Agustiani. Agustiani menerima uang dari Harun yang diberikan lewat Saeful.
 

 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif