Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Pengacara Bantah KAMI Bahas Demo di WA

Nasional Omnibus Law UU Cipta Kerja
Antara • 13 Oktober 2020 22:50
Jakarta: Kuasa hukum Sekretaris Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Syahganda Nainggolan, Ahmad Yani, membantah ada percakapan grup WhatsApp (WA) yang membahas demonstrasi menentang Undang-Undang (UU) Cipta Kerja (Ciptaker). Isu ini sempat dilontarkan polisi.
 
"Enggak ada," kata Ahmad Yani di Kantor Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2020.
 
Dari informasi yang didapat, Ahmad Yani menyebut Syahganda Nainggolan dipermasalahkankarena kicauannya di Twitter. Deklarator KAMI Anton Permana diperkarakan soal tulisan "TNI-ku Sayang TNI-ku Malang" yang diunggah di akun Facebook-nya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, masalah yang menyebabkan anggota Komite Eksekutif KAMI Jumhur Hidayat ditangkap belum diketahui. Ahmad Yani belum berhasil menemui Jumhur.
 
"Kami tidak tahu perbuatan apa dan pasal apa yang dipersangkakan ke Pak Jumhur," kata dia.
 
Di sisi lain, Mabes Polri memastikan penangkapan pegiat KAMI berdasarkan bukti permulaan yang kuat. Hal ini meliputi tangkapan layar percakapan grup WhatsApp, proposal, hingga unggahan di media sosial.
 
"Kalau rekan-rekan membaca WA-nya, ngeri. Pantas kalau di lapangan terjadi anarkistis. Itu mereka masyarakat yang tidak paham betul, gampang tersulut," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal (Brigjen) Awi Setiyono di Bareskrim Polri.
 
Awi menjelaskan dari delapan pegiat KAMI yang ditangkap di Jakarta dan Medan, tidak semuanya tergabung dalam satu grup WA. Namun, tiap orang yang ditangkap memang sudah dipantau polisi.
 
Dia belum mau membeberkan sejak kapan percakapan yang membahas penghasutan dengan ujaran kebencian bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) itu dimulai. Hal ini sudah masuk dalam ranah penyidikan.
 
Baca: Polri Ngeri Membaca Percakapan Grup WA KAMI
 
Awi hanya menerangkan penghasutan dari pegiat KAMI berkaitan dengan demo penolakan UU Ciptaker. Unjuk rasa terkait omnibus law ini berujung ricuh di berbagai kota besar di Indonesia.
 
"Patut diduga mereka (pegiat KAMI) memberikan informasi yang menyesatkan, berbau SARA, dan penghasutan," imbuh Awi.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif