Buronan Djoko Soegiarto Tjandra digiring saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis, 30 Juli 2020. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo
Buronan Djoko Soegiarto Tjandra digiring saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis, 30 Juli 2020. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo

Penangkapan Djoko Tjandra Tepis Isu Adanya Faksi di Polri

Nasional kasus korupsi Djoko Tjandra
Yogi Bayu Aji • 01 Agustus 2020 11:08
Jakarta: Isu adanya faksi di internal Polri terbantahkan setelah Korps Bhayangkara menangkap buronan Djoko Tjandra. Isu ini menyeruak karena keterlibatan Brigadir Jenderal (Brigjen) Prasetyo Utomo yang menerbitkan surat jalan bagi buronan kasus Bank Bali itu.
 
Pengamat politik Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing mengatakan keberadaan faksi dalam suatu organisasi memang wajar. Namun dalam kasus Djoko Tjandra, ia melihat ada kekompakan di internal Polri.
 
"Faksi atau in group dan out group dalam tinjauan sosiologi adalah hal yang tak terbantahkan di organisasi sosial. Hal itu terbentuk berdasarkan kinerja, prestasi, dan kedekatan. Dalam konteks penegakan hukum saya kira mereka harus menyatu mengabaikan ciri-ciri daripada in group out group," kata Emrus di Jakarta, Sabtu, 1 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Emrus mengatakan sebagai lembaga penegak hukum, isu adanya faksi di internal Polri harus bisa dikesampingkan. Hal ini demi berjalannya penegakan hukum di Indonesia.
 
"Kepolisian adalah lembaga yang eksis di Undang-Undang Dasar. Artinya lembaga ini tidak bisa dibubarkan meski presiden berganti. Oleh karena itu muruah daripada lembaga kepolisian ini harus kita jaga," jelas Emrus.
 
Kamis malam, 30 Juli 2020, Polri menangkap Djoko Tjandra dari persembunyiannya di Malaysia. Penangkapan ini merupakan instruksi langsung Presiden Joko Widodo kepada Kapolri Jenderal Idham Azis.
 
Baca: Yasonna Ingin 'Permainan' Aparat Berakhir di Brigjen Prasetyo
 
Emrus menilai keberhasilan ini tidak terlepas dari sinergi Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam melacak keberadaan Djoko Tjandra. Dalam memburu pelarian terpidana suatu kasus, kata dia, Polri tentu menggunakan berbagai informasi dari berbagai pihak, termasuk intelijen.
 
"Telah terjadi suatu kerja sama yang baik antara Polri dan intelijen. Polri berhasil menyimpan dan mengolah informasi yang bersifat rahasia itu sehingga bisa menangkap Djoko Tjandra," kata Emrus.
 

(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif