NEWSTICKER
Tersangka sindikat mafia tanah di Jakarta. Foto: Medcom/Siti Yona Hukmana
Tersangka sindikat mafia tanah di Jakarta. Foto: Medcom/Siti Yona Hukmana

Dua Anggota Sindikat Pemalsu Sertifikat Tanah Residivis

Nasional penipuan
Siti Yona Hukmana • 13 Februari 2020 01:59
Jakarta: Dua tersangka pemalsuan sertifikat hak milik (SHM) di Jakarta Selatan, Arnold Yosep dan Raden Handi, merupakan residivis. Mereka pernah dipenjara tujuh bulan terkait kasus serupa pada 2019.
 
"Kemudian, sejak 28 Januari 2020 kedua tersangka sudah bebas bersyarat dan kembali ditangkap kasus mafia tanah," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana di Hotel Mercure, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Februari 2020.
 
Arnold dan Raden jadi mafia tanah dengan delapan koleganya. Enam lainnya yakni Dedi Rusmanto, Henry Primariady, Siti Djubaedah, Bugi Martono, Dimas Okgi Saputra, Denny Elza, Neneg Zakiah dan Diah alias Ayu. Masing-masing tersangka memiliki peran berbeda.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Neneng dan Diah masuk daftar pencarian orang (DPO)," ujar Nana.
 
Sementara tersangka Dedi Rusmanto, lanjut Nana, merupakan narapidana kasus serupa di lembaga pemasyarakatan (lapas) Cipinang. Jadi, hanya tujuh dilakukan penahanan di Polda Metro Jaya.
 
"Dedi tidak ditahan di Polda, kalau dibutuhkan keterangannya kita pinjam dari lapas," ungkap Nana.
 
Pengungkapan kasus ini bermula dari laporan salah satu korban bernama Indra Hosein pada akhir 2019. Indra Hosein menjadi korban penipuan saat sertifikat rumahnya yang terletak di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, dipalsukan oleh sindikat mafia tanah tersebut. Sertifikat aslinya diagunkan kepada seorang rentenir.
 
Sedianya, Indra hendak menjual rumahnya itu kepada tersangka Diah alias Ayu (DPO) senilai Rp70 miliar. Saat proses pembelian, Diah mengajak Indra untuk mengecek keaslian sertifikat rumahnya ke kantor notaris yang ternyata fiktif.
 
"Itu notaris fiktif dengan nama kantor Notaris Idham. Di sana ada tersangka Raden Handi yang mengaku sebagai notaris Idham. Di kantor Notaris Idham, korban memberikan fotokopi (sertifikat) untuk dicek di (kantor) Badan Pertahanan Nasional (BPN) Jakarta Selatan," terang Nana.
 
Pengecekan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Selatan itu diwakili oleh rekan korban bernama Luffi. Luffi pergi bersama tersangka Dedi Rusmanto.
 
Tersangka Dedi lalu pura-pura ke toilet dan mengambil sertifikat palsu dan menukarnya dengan yang asli. Dedi mendapatkan upah Rp30 juta.
 
Dua Anggota Sindikat Pemalsu Sertifikat Tanah Residivis
Konferensi pers pengungkapan kasus mafia tanah di Jakarta. Foto: Medcom/Siti Yona Hukmana
 
Selanjutnya, sertifikat asli diserahkan kepada Dimas Okgi dan Ayu. Kemudian, keduanya bertemu dengan seorang rentenir untuk mengagunkan sertifikat rumah Indra tersebut.
 
Untuk meyakinkan rentenir itu, Dimas dan Ayu membawa peran pengganti yang menyamar sebagai Indra dan istrinya. Keduanya berhasil menerima uang hasil gadai sertifikat itu senilai Rp11 miliar.
 
"Uang Rp11 miliar ditransfer ke rekening bank Danamon dan ditarik tunai untuk diserahkan ke tersangka Arnold dan Neneng," kata Nana.
 
Kemudian, ada orang lain yang berniat membeli rumah Indra. Saat itu Indra sadar sertifikatnya telah diagunkan. Indra langsung pergi ke BPN dan dokumen sertifikat rumah Indra dinyatakan palsu.
 
"Kerugian sekitar Rp85 miliar, dengan rincian Rp70 miliar dari pemilik sertifikat rumah dan Rp11 miliar dari rentenir yang memberikan pinjaman," pungkas Nana.
 
Para tersangka dijerat Pasal 263 KUHP dan atau Pasal 264 KUHP Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke (1) KUHP dan atau Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 2010 Pasal 3, 4, 5 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Ancamannya hukuman maksimal 20 tahun penjara.
 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif