Suasana lingkungan dalam Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Foto: MI/Susanto
Suasana lingkungan dalam Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Foto: MI/Susanto

Arti Frasa Rekreasional RUU Pemasyarakatan

Nasional lembaga pemasyarakatan
Arga sumantri • 19 September 2019 12:30
Jakarta: Komisi III DPR membantah frasa rekreasional dalam revisi Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan membolehkan narapidana pelesiran. Rekreasional menjadi bagian dalam hak narapidana dalam revisi UU Pemasyarakatan.
 
"Boleh jalan-jalan? Ya enggak itu," kata anggota Komisi III DPR Arsul Sani di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis, 19 September 2019.
 
Menurut dia, frasa rekreasional tidak dimaknai membolehkan narapidana keluar penjara. Aturan ini hanya menjadi lampu hijau atas kegiatan-kegiatan yang bersifat rekreasi di dalam tahanan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia mencontohkan kompetisi olahraga antar blok tahanan. Selain itu, aturan ini membuka peluang kegiatan yang bersifat hiburan seperti momentum lomba perayaan hari kemerdekaan di dalam tahanan.
 
"Masa napi enggak boleh? Bukan jalan-jalan ke Ancol. Wong jalan bareng satu (napi) saja ribut apalagi jalan bareng (napi) selapas," beber dia.
 
Frasa rekreasional termuat dalam Pasal 7 Revisi UU Pemasyarakatan. Poin c dalam pasal itu mengatur hak-hak tahanan antara lain mendapatkan pendidikan, pengajaran, dan kegiatan rekreasional, serta kesempatan mengembangkan potensi.
 
Hak narapidana lainnya yang diatur yaitu menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing. Kemudian, mereka mendapatkan perawatan, baik jasmani dan rohani.
 
Selain itu, napi juga mendapatkan pelayanan kesehatan dan makanan yang layak sesuai kebutuhan gizi. Mereka juga berhak mendapatkan layanan informasi, penyuluhan, dan bantuan hukum.
 
Terpidana diperbolehkan menyampaikan pengaduan dan keluhan, mendapatkan bahan bacaan, dan mengikuti siaran media massa yang tidak dilarang. Selanjutnya, narapidana berhak mendapatkan perlakuan secara manusiawi.
 
Mereka juga dilindungi dari penyiksaan, eksploitasi, pembiaran, kekerasan, serta segala tindakan yang membahayakan fisik dan mental. Terakhir, mereka berhak mendapatkan pelayanan sosial dan menerima atau menolak kunjungan dari keluarga, advokat, pendamping, dan masyarakat.
 

 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif