Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim--Medcom.id/Suci Sedya Utami.
Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim--Medcom.id/Suci Sedya Utami.

OTT KPK Tak Ganggu Produksi Baja Krakatau Steel

Nasional OTT KPK
Suci Sedya Utami • 24 Maret 2019 16:03
Jakarta: Penangkapan Direktur Teknologi dan Produksi Wisnu Kuncoro dipastikan tidak akan menggangu kinerja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Produksi baja yang ditargetkan mencapai 10 juta ton hingga 2025 tetap berjalan.
 
"Enggak ada hambatan produksi. Permasalah ini enggak akan menurunkan kinerja Krakatau Steel," kata Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim di kantor Krakatau Steel, Jakarta Selatan, Minggu, 24 Maret 2019.
 
Mantan Direktur Utama PT Pindad ini telah mengambil langkah antisipasi agar para mitra Krakatau Steel tetap terlayani dengan baik. Para mitra khususnya pihak asing pun telah berkomunikasi dan tidak khawatir kasus yang menjerat Wisnu ini mengganggu bisnisnya ke depan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rencana pembangunan 10 juta cluster di Cilegon pun dipastikan tidak akan terganggu dan mundur. Krakatau Steel juga akan menginvestasikan dana sebesar USD400 juta pada 2019 untuk induk dan anak perusahaan.
 
Baca:KPK Tangkap 2 Orang terkait OTT Krakatau Steel
 
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebelumnya menangkap tangan Wisnu dan tiga orang dari unsur pihak swasta, Alexander Muskitta, Kenneth Sutardja serta Kurniawan Eddy Tjokro. Mereka ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan korupsi dalam pengadaan kontainer dan boiler di pabrik blast furnace PTKS, Cilegon, Banten.
 
Wisnu dan Muskitta disangkakan sebagai penerima suap. Sementara itu, Kenneth dan Kurniawan sebagai pemberi suap.
 
Ihwal suap ini terjadi pada 2019, saat Direktorat Teknologi dan Produksi PTKS merencanakan kebutuhan barang dan peralatan, masing-masing bernilai Rp24 miliar dan Rp2,4 miliar. Muskitta diduga menawarkan beberapa rekanan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut kepada Wisnu dan disetujui.
 
Muskitta menyepakati commitment fee dengan rekanan yang disetujui untuk ditunjuk, yakni PT Grand Kartech (PTKS) dan Group Tjokro (GT) senilai 10 persen dari nilai kontrak.
 
Selanjutnya, Muskitta meminta Rp50 juta kepada Kenneth dari PTGK dan Rp100 juta kepada Kurniawan dari GT. Pada 20 Maret 2019, Muskitta menerima cek Rp50 juta dari Kurniawan yang kemudian disetorkan ke rekening Muskitta.
 
Baca:Direktur Utama Pastikan Kinerja Krakatau Steel tak Terganggu
 
Kemudian, Muskitta juga menerima uang sebanyak USD4 ribu atau setara Rp56,64 juta dan Rp45 juta di sebuah kedai kopi di Jakarta Selatan. Uang tersebut kemudian disetorkan ke rekening Muskitta.
 
Toal uang yang diamankan saat penangkapan senilai Rp20 juta dalam sebuah kantung kertas berwarna cokelat. Dari Muskitta, tim mengamankan sebuah buku tabungan atas nama Muskitta.
 
Atas perbuatannya, Wisnu dan Muskitta sebagai penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sedangkan Kenneth dan Kurniawan selaku pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif