Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal.
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal.

Gerakan People Power Berbeda dengan Terorisme

Nasional terorisme
Candra Yuri Nuralam • 15 Mei 2019 14:06
Jakarta: Gerakan people power dinilai berbeda dengan terorisme. Aparat keamanan diminta tidak menyamaratakan dalam penindakannya.
 
"Jadi menurut saya, polisi juga jangan mencampuradukkan urusan penanggulangan teror ini dengan urusan pengamanan pemilu. Ini penting, agar tak keliru mengidentifikasi, mana gangguan keamanan dan mana penyampaian pendapat," kata pengamat terorisme Khairul Fahmi kepada Medcom.id, Rabu, 15 Mei 2019.
 
Menurut dia, terorisme merupakan aksi yang dapat mengganggu keamanan negara. Sedangkan people power hanya bertujuan menyampaikan pendapat. Dia khawatir terjadi kericuhan bila terjadi salah tangkap akibat people power.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Polri tak boleh menggunakan isu terorisme untuk membentuk persepsi negatif pada kelompok yang mempersoalkan hasil pemilu," ucap dia.
 
Namun, dia mengingatkan aparat tidak lemah menjaga keamanan dan hanya fokus pada aksi people power. Karena serangan terorisme tidak bisa diprediksi secara pasti.
 
"Selama ini serangan-serangan terkait teroris cenderung simultan, acak, dan sporadis. Siapa bisa memastikan mereka berencana melakukan aksi teror di lokasi-lokasi aksi people power?" kata Fahmi.
 
Polisi sebelumnya menduga kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD) bakal memanfaatkan momentum Pemilu 2019 untuk melancarkan aksi. Apalagi, beberapa tokoh politik memunculkan wacana penggerakan massa jika hasil pemilu tak sesuai keinginan mereka.
 
"Rencana (JAD) yang dilakukan 2019 ini memanfaatkan momentum pemilu. Apabila ada people power di Jakarta, mereka bisa melakukan aksi terorisme yang melibatkan fatalitas, banyak korban meninggal," kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa, 7 Mei 2019.
 
Kelompok JAD disebut bisa membaca dinamika masyarakat. Ia mencontohkan aksi terorisme yang terjadi di Suriah, Irak, dan Malawi. JAD yang merupakan dalang dari aksi itu menunggu kericuhan terjadi sebelum melancarkan aksi.
 
"Jadi menunggu massa chaos dulu. Menunggu massa betul-betul kumpul, ledakkan, konflik lebih besar, mereka ambil alih," ucap Dedi.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif