Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id

Psikolog Forensik: Polisi Rentan Tersandung Penyalahgunaan Narkoba

Nasional narkoba polri kasus narkoba
Siti Yona Hukmana • 26 Oktober 2020 08:43
Jakarta: Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menilai polisi menyandang tugas yang berat, apalagi di bagian reserse kriminal (reskrim). Polisi dituntut menuntaskan kasus dengan cepat yang membuat kesehatan jiwa terganggu.
 
"Apa barang yang bisa mendongkrak stamina dalam tempo cepat dan memperbaiki suasana hati? Narkoba," kata Reza dalam keterangan tertulisnya, Senin, 26 Oktober 2020.
 
Menurut dia, kondisi ini membuat polisi rentan. Pasalnya, selain soal kasus, polisi dibebani tuntutan organisasi, tekanan masyarakat, intervensi politik, kejahatan yang semakin kompleks, serta masalah pribadi. Masalah ini sulit dihadapi karena keterbatasan stamina seseorang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ironis memang, polisi bisa saja melarikan diri ke narkoba justru agar bisa menyelesaikan tugas dan menyesuaikan diri dengan segala kompleksitas tadi," ujar Konsultan Lentera Anak Foundation itu.
 
Baca: Cara Polri Tindak Aparat Terlibat Narkoba
 
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Jakarta itu menjelaskan jika hal itu terjadi, harus ada peran Polri secara keseluruhan. Korps Bhayangkara perlu menata tugas dan memperhatikan kesehatan personel.
 
"(Beban) ini jelas tidak bisa dipenuhi oleh personel sendiri," kata Reza.
 
Namun, alumnus Universitas Gajahmada itu memandang polisi tersandung kasus narkoba kebanyakan karena motif ekonomi. Mereka yang terlibat narkoba bukan sebagai pemakai, melainkan pengedar atau penjual.
 
Kondisi ini terlihat dalam kasus polisi, R dan A, yang dinas di Polda Jawa Timur. Mereka ditangkap karena terlibat kasus narkoba.
 
"Kalau dua yang terakhir ini tampaknya motifnya semata-mata adalah ekonomi, kerakusan, keinginan memperkaya diri sendiri lewat cara jahat," ungkap Reza.
 
Polisi penjual narkoba, kata dia, dapat disebut sebagai korupsi (drug-related police corruption). Dia berharap kasus itu tidak ditutup-tutupi hanya demi nama baik Polri, seperti kasus brigadir jenderal (brigjen) yang didemosi karena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).
 
"Pengungkapan-pengungkapan hal yang sejatinya memalukan itu berpotensi menumbuhkan kepercayaan dan penghormatan publik terhadap institusi kepolisian," ucap dia.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif