Kriminalisasi Dokter Harus Disertai Pandangan Ahli
Hakim Agung Kamar Pidana Mahkamah Agung RI Gazalba Saleh (batik biru). Medcom.id/ Sunnaholomi Halakrispen
Jakarta: Hakim Agung Kamar Pidana Mahkamah Agung RI Gazalba Saleh mengimbau pengadilan agar tidak bergantung pada pernyataan saksi namun harus disertai pendapat para ahli dalam menetapkan putusan mengenai tindakan para dokter yang dianggap menyimpang dan melanggar hukum kesehatan.

"Untuk menentukan apakah dokter itu telah melakukan malpraktek atau tidak, maka semuanya itu janganlah didasarkan dulu pada keterangan saksi dan keterangan lainnya. Tapi harus dijelaskan dulu keterangan ahli," ujar Gazalba di Hotel Aryaduta Tugu Tani, Jakarta Pusat, Kamis, 28 Juni 2018.

Ia menyatakan ahli dalam hal ini merupakan dokter yang memahami bidang perkara medis tentu harus memaparkan apakah tersangka melakukan tindakan profesional atau tidak. Namun Gazalba menegaskan ahli tersebut harus netral.


"Jangan karena dia dokter maka membela dokter. Ahli itu terikat dengan sumpahnya. Jika yang bersangkutan memang ada indikasi melakukan perbuatan tindak pidana, maka harus tetap dilanjutkan," tutur dia. 

Kemudian lanjut Gazalba ahli juga tidak boleh memaparkan suatu kebohongan seperti tindakan profesional yang dilakukan tersangka namun dinyatakan sebagai tindakan tidak profesional.

"Juga membuat dokter seakan ada pandangan, ah dulu kan ada seperti itu, tidak dilakukan juga tindakan apa-apa. Akhirnya sembrono, ceroboh," imbuhnya.

Ia menyampaikan hal tersebut agar pemaparan dalam persidangan dapat seusai dengan konteks melalui pernyataan ahli. Pasalnya ia menganggap persoalan kriminalisasi dokter berbeda dengan kasus kriminal lainnya.



(SCI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id