Suasana sidang gugatan kematian ikan koi akibat pemadaman listrik secara nasional di PN Jakarta Selatan. Foto: Kautsar Widya Prabowo/Medcom.id
Suasana sidang gugatan kematian ikan koi akibat pemadaman listrik secara nasional di PN Jakarta Selatan. Foto: Kautsar Widya Prabowo/Medcom.id

Sidang Gugatan Kematian Ikan Koi Kader PSI Ditunda

Nasional pemadaman listrik
Kautsar Widya Prabowo • 22 Agustus 2019 15:18
Jakarta: Sidang gugatan kematian ikan koi karena pemadaman listrik ditunda hingga Kamis, 29 Agustus 2019. PT PLN (Persero) selaku tergugat tidak menghadiri persidangan.
 
Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Elfian mengatakan PLN sudah dipanggil sejak 16 Agustus 2019. Sidang akan dilanjutkan jika pihak tergugat hadir.
 
"Juru sita kami memanggil dengan alamat surat bertemu Bu Sita, staf legal di kantor tersebut (PLN)," ujar Elfian di ruang sidang PN Jakarta Selatan, Kamis, 22 Agustus 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Elfian menegaskan pihak PLN harus hadir dalam sidang selanjutnya. Jika tiga kali perusahaan BUMN itu tidak hadir, sidang keempat akan tetap dijalankan tanpa kehadiran pihak tergugat.
 
Elfian juga meminta pemohon Ariyo Bimmo hadir di setiap sidang. Gugatan akan dinyatakan gugur bila pemohon tidak hadir.
 
"Karena gugatan itu prinsipal saudara harus wajib hadir," ujar Elfian.
 
Ariyo menyeret kasus pemadaman listrik karena ingin memberikan pembelajaran untuk PLN. Dia pun meminta ganti rugi Rp1,9 juta atas masalah ini.
 
"Konsumen kalau kejadian kaya gini, jangan diem saja, karena dia punya hak, bisa menggugat meminta kerugian, sebagai pelayanan publik perlu meningkatkan mutu pelayananya, dalam arti hal-hal seperti ini selama ini enggak pernah kejadian," tegas Ariyo.
 
Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu berharap PLN dapat berbenah diri. Pelanggan mendapatkan kepuasan dari layanan yang diberikan PLN.
 
"Pelayanan publik tidak hanya sekadarnya tapi harus prima, dan kalau semua orang berpikir kaya gitu, semua konsumen akan terlindungi," ujar dia.
 
PLN dituding melanggar hak subjektif konsumen yaitu hak mendapatkan tenaga listrik secara terus menerus dengan mutu, dan keandalan yang baik sebagaimana ketentuan Pasal 29 ayat (1) huruf b UU No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan.
 
Total kerugian yang diterima Ariyo dalam kasus ini sebesar Rp1.925.000. Rinciannya, satu ikan koi jenis Budo Goromo 50 cm seharga Rp1.000.000, satu ikan koi jenis Tancho Kohaku lokal 45 cm Rp550 000, satu ikan koi jenis Sanke lokal 45 cm Rp375.000.
 

(AZF)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif