Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez
Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri. Medcom.id/Fachri Audhia Hafiez

Penyidik Polda Metro yang Ditempatkan Khusus di Mako Brimob Berpangkat AKBP

Rahmatul Fajri • 12 Agustus 2022 02:04
Jakarta: Inspektorat Khusus (Itsus) Polri memeriksa seorang penyidik Polda Metro Jaya terkait dugaan pelanggaran kode etik dalam penanganan kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (J). Hasil pemeriksaan, Itsus memutuskan menempatkan penyidik berpangkat AKBP itu di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.
 
"Hari ini Itsus sudah periksa 1 penyidik Polda Metro Jaya. Dari hasil pemeriksaan, langsung ditempatkan di tempat khusus Mako Brimob," kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo di Mako Brimob, Kamis, 11 Agustus 2022.
 
Dedi mengatakan sejauh ini sudah ada 6 personel Polri yang ditempatkan di Mako Brimob karena diduga melanggar kode etik. Total ada 12 anggota yang diduga melanggar etik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Untuk patsus di sini (Mako Brimob) ada 6 berarti. Untuk yang di Provos ada 6, jadi (total) 12," kata Dedi.
 
Irwasum Polri Komjen Agung Budi Marwoto sebelumnya mengatakan telah memeriksa 56 personel Polri terkait kasus tersebut. Dari pemeriksaan itu, 31 personel diduga melanggar kode etik.
 

Baca: Tanpa Pengakuan, Polisi Kantongi Bukti Ferdy Sambo Otak Pembunuhan Brigadir J


Rinciannya, anggota dari Bareskrim 3, Div Propam berpangkat perwira tinggi (pati) 3, perwira menengah (pamen) 8, perwira pertama (pama) 4, bintara 4, dan tamtama 2 personel. Kemudian, Polda Metro Jaya berjumlah 7 personel dengan 3 berpangkat pama.
 
Polri menetapkan eks Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo sebagai tersangka kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J). Polisi juga menetapkan Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu (E), Bripka Ricky Rizal (RR), dan KM alias Kuat yang merupakan asisten rumah tangga (ART) sekaligus sopir Putri Candrawathi, istri Sambo sebagai tersangka.
 
Bharada E bertugas menembak. Sedangkan Bripka RR dan KM ikut menyaksikan penembakan dan tidak melaporkan rencana pembunuhan.
 
Keempat tersangka dijerat Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana, Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, juncto Pasal 55 dan 56 KUHP. Dengan ancaman hukuman pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 20 tahun.
 
(JMS)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif