Ilustrasi/Medcom.id
Ilustrasi/Medcom.id

PBNU: Polisi Harus Deteksi Motif Teror di Sigi

Nasional terorisme pembunuhan pbnu
Siti Yona Hukmana • 30 November 2020 09:44
Jakarta: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengutuk aksi penyerangan dan teror yang menewaskan empat warga dusun Tokelemo, Desa Lemba Tongoa, Palolo, Kabupaten Sigi, Palu, Sulawesi Tengah. Aparat diminta segera mendeteksi motif tindakan radikal tersebut.
 
"Deteksi segera motif dan pola kekerasan dan temukan aktor intelektual dan pelakunya. Proses sesuai hukum yang berlaku," kata Ketua Tanfidziyah PBNU Robikin Emhas dalam keterangan tertulis, Senin, 30 November 2020. 
 
Robikin menyebut motif apa pun tidak dibenarkan dalam aksi teror itu. Sebab, aksi tersebut menunjukkan kekerasan dan tindakan melukai kemanusiaan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Polisi harus bertindak cepat, terukur, dan profesional, dalam mengusut insiden penyerangan ini," ujar Robikin. 
 
Baca: Komnas HAM Minta Aparat Tangkap Pelaku Teror Sigi
 
Dia melihat tindakan teror tersebut sengaja dibuat untuk menyebarkan rasa ketakutan di tengah masyarakat. Belajar dari peristiwa penyerangan dan pembakaran serupa sebelumnya. 
 
Dia menegaskan kelompok-kelompok penebar teror seperti itu tidak berhak mengatasnamakan elemen agama. Dia meyakini tidak ada agama yang membenarkan aksi tersebut. 
 
"Teror juga merupakan tindakan antikemanusiaan," ucap Robikin. 
 
Menurutnya, harus ada langkah preventif dari penegak hukum agar kasus ini tidak merembet menjadi sentimen keagamaan. Sebab, dapat merusak kerukunan antar umat beragama. 
 
"Jangan ada pihak manapun yang terprovokasi dan membalasnya dengan kekerasan. Apalagi mendasarinya dengan kebencian atas dasar sentimen-sentimen sektarian," pinta dia. 
 
Menurut Robikin, sikap pembalasan itu hanya melahirkan saling curiga dan merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Robikin meminta masyarakat menjadikan pengalaman pahit konflik agama di Poso sebagai sejarah kelam di masa lalu. Dia juga meminta masyarakat memperkuat anyaman kebersamaan sebagai sesama anak bangsa dan saudara dalam kemanusiaan. 
 
"Generasi penerus bangsa lebih berhak menyerap energi positif dari kita. Bukan luka dan dendam sejarah," tutur Robikin. 
 
Satu keluarga di Desa Lemba Tongoa, Kabupaten Sigi, Palu, Sulawesi Tengah, dibunuh pada Jumat, 27 November 2020. Pelaku diduga kelompok teroris.
 
Pada peristiwa itu, satu rumah pelayanan atau rumah yang dijadikan sebagai tempat ibadah oleh warga turut dibakar. Perkampungan dihuni sekitar 40 kepala keluarga (KK).
 
(ADN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif