Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan memberikan keterangan pers di Gedung KPK, Jakarta. (Foto: ANTARA/Yulius Satria Wijaya)
Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan memberikan keterangan pers di Gedung KPK, Jakarta. (Foto: ANTARA/Yulius Satria Wijaya)

Pengacara Duga Polisi Hapus Sidik Jari Penyerang Novel Baswedan

Nasional novel baswedan
Siti Yona Hukmana • 25 Juni 2019 14:22
Jakarta: Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan meyakini sidik jari yang terdapat pada cangkir penyiraman air keras yang menimpanya pada 2017 lalu tidak pernah hilang. Sebelumnya, polisi menyebut sidik jari itu hilang karena diduga dipegang oleh saksi menggunakan sarung tangan.
 
"Novel mendapatkan informasi kalau sidik jari dihapus oleh anggota polisi," kata Anggota Tim Kuasa Hukum Novel, Aghiffari Aqsa kepada Medcom.id di Jakarta, Selasa, 25 Juni 2019.
 
Alghif mengatakan, sebelum menyebut sidik jari itu hilang, polisi pernah menerangkan bahwa barang bukti cangkir yang ditemukan tak jauh dari lokasi penyerangan terhadap Novel tidak ditemukan sidik jari. Alasannya, karena gagang cangkir kecil.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kemudian bilang lagi kalau sidik jari terhapus. Ada dugaan dihilangkan," ujar Alghif.
 
Lebih jauh, Alghif menyebut Novel mengakui bahwa ada seorang saksi melihat pelaku menggenggam sempurna cangkir yang berisi air keras tersebut. Maka itu, tidak mungkin sidik jari pelaku hilang.
 
"Cangkir itu diamankan oleh saksi dengan tidak menyentuh secara langsung. Saksi itu tetangga Novel. Dia sudah di BAP (periksa) juga," tutur Alghif.
 
Baca juga:Pencekalan Novanto dan Penyobekan Buku Merah Membayangi Penyerangan Novel
 
Alghif mengungkapkan, kejanggalan sidik jari itu diceritakan Novel saat menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta Selatan pada Kamis, 20 Juni 2019. Ada lima penanya saat itu; mantan Wakil Pimpinan KPK dan guru besar hukum pidana Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji; Ketua Setara Institut, Hendardi; Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti; mantan Komisioner Komnasham, Nur Kholis, dan Ifdhal Kasim.
 
Pemeriksaan itu juga disaksikan oleh Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode M Syarief. Para penyidik Polri berada di belakang mendengarkan keterangan Novel.
 
Meski begitu, Alghif yang menyaksikan pemeriksaan mendampingi Novel menilai tak ada respons positif dari Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan Polri. Mereka hanya merespons dengan menanyakan identitas anggota polisi yang menginformasikan.
 
"Tidak ada respons yang signifikan kecuali menanyakan siapa polisi yang informasikan. Novel tidak berikan nama, karena informan tidak ingin namanya dibuka," pungkas Alghif.
 
Baca juga:Penyerang Novel Baswedan Diduga Terus Mengintai
 
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono sebelumnya membenarkan hilangnya sidik jari pada cangkir tersebut. Menurutnya, tak ada pengawasan terhadap saksi yang saat itu mengamankan cangkir.
 
"Iya (sidik jari) hilang. Ada beberapa kemungkinan, bisa pakai sarung tangan, tapi ini semua masih bagian dari penyidikan," ucap Argo di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu, 23 Agustus 2017.
 
Air keras yang disiramkan ke wajah Novel itu mengandung cairan H2SO4. Bahan kimia itu bisa melepuhkan kulit.
 
Tim gabungan khusus dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian melalui surat tugas Kapolri bernomor Sgas/3/I/HUK.6.6./2019 yang dikeluarkan pada 8 Januari 2019. Tim ini bertugas menyelidik dan menyidik kekerasan terhadap Novel selama enam bulan terhitung sejak 8 Januari 2019 sampai dengan 7 Juli 2019.
 
Novel diserang orang tak dikenal pada Selasa, 11 April 2017, usai menjalani salat Subuh di Masjid Al-Ihsan di dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Namun, hingga 800 hari pascateror, polisi belum juga mengungkap pelaku atau otak intelektual dari teror tersebut.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif