Penyidik senior KPK Novel Baswedan - Medcom.id/Arga Sumantri.
Penyidik senior KPK Novel Baswedan - Medcom.id/Arga Sumantri.

Tim Gabungan Dinilai Gagal Mengungkap Penyerang Novel

Nasional novel baswedan
Siti Yona Hukmana • 08 Juli 2019 12:15
Jakarta: Tim gabungan bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian dinilai gagal mengungkap kasus penyerangan terhadap penyidik senior Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Pasalnya, hingga batas waktu yakni enam bulan, tim tidak dapat mengungkap satu pun aktor yang bertanggung jawab atas cacatnya mata kiri Novel.
 
"Tim Satuan Tugas (Satgas) yang dibentuk oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menyelesaikan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan gagal," kata kuasa hukum Novel, Yati Andriyani dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin, 8 Juli 2019.
 
Yati mengatakan, saat tim satgas dibentuk pada 8 Januari 2019 masyarakat pesimis kinerja tim dapat membuahkan hasil. Sebab, 53 anggota tim berasal dari unsur Polri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, saat pertama kali kasus ini mencuat diduga ada keterlibatan polisi atas serangan terhadap Novel. Sehingga, kata Yati, patut diduga rawan konflik kepentingan dalam kasus penyiraman air keras tersebut.
 
"Makanya, pada saat itu masyarakat menggaungkan pembentukan Tim Independen yang bertanggung jawab kepada Presiden Joko Widodo," ujar Yati.
 
Namun, Yati menilai Presiden seolah-olah melepaskan tanggung jawabnya sebagai panglima tertinggi. Padahal, salah satu janji politik Presiden Jokowi dalam isu pemberantasan korupsi yaitu ingin memperkuat KPK.
 
Di sisi lain, menurut Yati, proses pemeriksaan yang dilakukan oleh satgas sangat lambat dan terkesan formalitas. Itu diyakini saat melihat proses pemeriksaan Novel pada 20 Juni 2019 lalu di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan.
 
"Tim itu mengajukan pertanyaan yang repetitif (bersifat pengulangan) kepada Novel," tutur Yati.
 
(Baca juga:Pengacara Duga Polisi Hapus Sidik Jari Penyerang Novel Baswedan)
 
Apalagi, hasil pelesir satgas ke kota Malang dalam rangka penyelidikan tidak disampaikan ke publik. Itu, kata Yati, mengindikasikan keseriusan tim patut dipertanyakan akuntabilitasnya.
 
"Sejak tim dibentuk tidak pernah ada satu informasi pun yang disampaikan ke publik mengenai calon tersangka yang diduga melakukan penyerangan," imbuh Yati.
 
Yati membandingkan penyelesaian kasus Novel dengan pembunuhan sekeluarga di Pulomas, Jakarta Utara. Kasus pembunuhan dengan penyekapan itu dapat diungkap polisi dalam waktu 19 jam.
 
"Sedangkan untuk kasus Novel waktu penyelesaiannya lebih dari dua tahun. Hal ini diduga karena adanya keterlibatan elite atas penyerangan Novel. Tidak adanya transparansi dalam penanganan kasus," sebut Koordinator KontraS itu.
 
Yati juga membandingkan kasus Novel dengan kasus pembunuhan Mirna menggunakan sianida pada 2016 lalu. Kepolisian menyampaikan prosesnya mulai dari tindakan autopsi hingga proses pemeriksaan terhadap saksi-saksi.
 
"Namun hal tersebut berbanding terbalik dengan kasus Novel. Seharusnya Kepolisian menangani setiap kasus secara proporsional dan setara agar tercipta keadilan," tambah dia.
 
Yati menyebut, intimidasi terhadap aktivis antikorupsi bukan hanya kali ini saja. Berdasarkan catatan Indonesian Corruption Watch (ICW), terdapat 91 kasus yang memakan 115 korban dari tahun 1996 hingga 2019. Kasus terakhir menimpa dua komisioner KPK yang diteror menggunakan bom.
 
Ia sangat menyayangkan negara tidak hadir dalam upaya melindungi warga untuk berpartisipasi dalam pemberantasan korupsi. Padahal, kata dia, Presiden telah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2018 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 
Karena itu, Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi mendesak agar presiden segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Independen agar menunjukkan keberpihakan pada pemberantasan korupsi. Tim itu harus menyampaikan laporannya kepada publik sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas.
 
Novel diserang orang tak dikenal pada Selasa, 11 April 2017, usai menjalani salat Subuh di Masjid Al-Ihsan di dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Namun, hingga 800 hari pascateror, polisi belum juga mengungkap pelaku atau otak intelektual dari teror keji tersebut.
 
(Baca juga:Pencekalan Novanto dan Penyobekan Buku Merah Membayangi Penyerangan Novel)
 

 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif