Dua Tersangka Penembak Gedung DPR PNS Kemenhub
Dua orang pelaku penembak Gedung DPR RI ditangkap--Medcom.id/Siti Yona Hukmana.
Jakarta: IAW, 32 dan RMY, 34 telah ditetapkan sebagai tersangka atas penembakan Gedung DPR RI, Senin, 15 Oktober 2018 pukul 14.35 WIB dan 16.30 WIB. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Nico Afinta mengatakan dua tersangka tersebut bukan anggota Perbakin. 

"Dua tersangka itu adalah pegawai negeri sipil (PNS) di Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Tapi, direktoratnya apa saya belum tahu," kata Nico di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa, 16 Oktober 2018.

Dua orang PNS itu berlatih menembak di Lapangan Tembak, Senayan, Jakarta Pusat pada Senin, 15 Oktober 2018 pukul 12.00 WIB. Mereka menembakkan proyektil peluru menggunakan senjata api jenis Glock 17 dan AKAI Custom. 


Namun, lanjut Nico, dua peluru yang menyasar ke Gedung Nusantara I DPR RI akibat tembakan IAW. Tembakan pertama pukul 14.35 WIB mengenai ruang kerja anggota DPR Fraksi Golkar Bambang Heri Purnama, ruang 1313 lantai 13. Kemudian, pada pukul 16.30 WIB mengenai ruang kerja anggota DPR Fraksi Gerindra Wenny Warouw, ruang 1601 lantai 16.

"Dua-duanya mencoba, namun saat kejadian itu IAW yang melakukan penembakan menggunakan senjata Glock 17 dengan alat bantu tambahan bernama switch custom," ungkap Nico.

Sementara itu Kabid Balistik, Metalurgi Forensik Puslabfor Polri Kombes Ulung Kanjaya menambahkan, pihaknya sudah melakukan uji balistik terhadap dua proyektil peluru yang ditemukan di ruangan anggota DPR Komisi III Wenny Warouw dan anggota Komisi VII Bambang Heri Purnama. Dari hasil pemeriksaan, anak peluru yang ditemukan itu identik dengan senjata Glock 17 yang dipakai.

"Kita juga lakukan perbandingan, anak peluru di TKP berasal dari satu senjata, dari pengembangan yang dilakukan penyidik, didapatlah senjata ini, Glock 17 yang dicurigai digunakan di Lapangan Tembak. Jarak tembak itu bisa ke lantai 13 dan 16," beber Ulung.

Kini dua tersangka itu telah ditahan di Polda Metro Jaya. Mereka disangkakan melakukan tindak pidana menguasai, membawa dan memiliki senjata api tanpa hak. Atas tindak pidana itu, dijerat Pasal 1 Ayat 1 Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.



(DRI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id