Korupsi. Ilustrasi: Medcom.id/Mohammad Rizal.
Korupsi. Ilustrasi: Medcom.id/Mohammad Rizal.

Saksi Sebut PT AAL Sempat Batal Ajukan PK

Nasional suap di ma
Damar Iradat • 07 Januari 2019 16:10
Jakarta: Anak buah bos Lippo Group Eddy Sindoro, Wresti Kristian Hesti, mengklaim PT Across Asia Limited (AAL) batal mengajukan Peninjauan Kembali (PK) saat beperkara di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus). Saat itu, mantan Panitera PN Jakpus Edy Nasution meminta Rp500 juta agar PT AAL bisa mengajukan PK.
 
Wresti mengatakan kala itu PT AAL, yang merupakan anak usaha Lippo Group, dinyatakan pailit oleh Mahkamah Agung (MA) dalam putusan kasasi. Namun, hingga batas waktu 180 hari, PT AAL tak kunjung mengajukan PK.
 
Menurut Wresti, PT AAL sedianya berniat mengajukan PK, tetapi suratnya terlambat diberikan ke PN Jakpus. Kemudian, Eddy Sindoro memintanya untuk menghubungi Markus Parmadi, perwakilan PT AAL.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pak Markus butuh bantuan. Waktu itu ada pergantian lawyer, surat (salinan kasasi) dikirim ke lawyer yang lama," kata Wresti saat bersaksi untuk Eddy Sindoro di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin, 7 Januari 2019.
 
Setelah itu, ia menemui Edy Nasution. Kepada Edy, Wresti menjelaskan keinginan PT AAL mengajukan PK. Saat itu, pengajuan PK sudah ditutup karena melewati batas waktu. Namun, Edy Nasution mengatakan jika permohonan PK PT AAL bisa diupayakan dengan syarat Rp500 juta.
 
Atas permintaan Edy Nasution, Wresti kemudian melaporkannya ke Eddy Sindoro. Menurut dia, saat itu Eddy Sindoro menunggu kabar dari Markus. Setelahnya, kata dia, Markus akhirnya menghubungi. Ia meminta agar permohonan PK dibatalkan.
 
"Pak Markus telepon saya, katanya batal, enggak jadi ajukan PK," ucap dia.
 
Sehabis itu, Wresti mengaku sudah tidak lagi mengurus perkara PT AAL. Menurut dia, PT AAL sudah menunjuk firma hukum Cakra and Co yang beberapa kali menangani perkara terkait dengan perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan Eddy Sindoro.
 
Wresti juga mengaku tidak mengetahui kelanjutannya apakah PT AAL pada akhirnya mengajukan PK. Ia baru mengetahui jika PT AAL akhirnya mengajukan PK setelah kasus suap ini terbongkar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
 
"Seingat saya penyidik yang beritahu," tegas Wresti.
 
Dalam surat dakwaan, Eddy Sindoro dan Markus menyepakati agar PT AAL menunjuk firma hukum Cakra and Co sebagai kuasa hukum yang baru. Selanjutnya, perwakilan Cakra and Co, Dian Anugerah Abunaim dan Agustriady, menemui Edy Nasution untuk menyampaikan jika PT AAL mengajukan PK dan beralasan belum pernah menerima putusan kasasi.
 
Setelah itu, Edy Nasution memberikan salinan putusan kasasi dan melampirkan pencabutan kuasa hukum yang lama. Atas hal itu, Agustriady memberikan USD50 ribu kepada Edy Nasution.
 
Baca:Anak Buah Eddy Sindoro Mengaku Dimintai Uang Panitera
 
Usai menerima uang itu, Edy Nasution langsung memproses dan mendaftarkan permohonan PK PT AAL. Saat mengurus PK itu, Edy Nasution juga berhubungan dengan Sekretaris MA Nurhadi.
 
Eddy Sindoro pun didakwa menyuap panitera Edy Nasution. Suap diduga diberikan terkait pengurusan sejumlah perkara untuk beberapa perusahaan di bawah Lippo Group yang ditangani di PN Jakarta Pusat.
 
Suap tersebut antara lain sebesar Rp100 juta agar Edy Nasution menunda memberikan peringatan dari pengadilan kepada pihak beperkara kepada PT Metropolitan Tirta Perdana (MTP). Uang itu diberikan melalui perantara Wawan Sulistyawan dan Doddy Aryanto Supeno.
 
Selain itu, Eddy Sindoro juga didakwa menyuap Edy Nasution sebesar Rp50 juta dan USD50 ribu. Uang suap itu terkait permintaan perkara PK yang diajukan PT AAL.
 
Eddy disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a dan atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang (UU) Tindak Pidana Korupsi Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah UU Tindak Pidana Korupsi Nomor 20 Tahun 2001 junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif